Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Arkeolog Temukan Fakta Mengejutkan soal Tubuh Hamil di Era Viking dari Kuburan, Patung, dan Hukum Kuno

Prisilia Rumengan • Selasa, 20 Mei 2025 | 06:58 WIB

Helgi dan Guðrún dari Laxdæla Saga, diilustrasikan oleh Andreas Bloch
Helgi dan Guðrún dari Laxdæla Saga, diilustrasikan oleh Andreas Bloch

RADARPAPUA - Sebuah studi interdisipliner terbaru mengungkap sisi tersembunyi kehamilan dalam masyarakat Viking, memperlihatkan bahwa proses ini tidak hanya bersifat biologis, tapi juga sarat muatan politik, simbolik, dan ketidaksetaraan sosial.

Dipublikasikan di Cambridge Archaeological Journal, penelitian ini dipimpin oleh Dr. Marianne Hem Eriksen dari Universitas Leicester dan Dr. Katherine Marie Olley dari Universitas Nottingham.

Dengan menggabungkan hikayat Norse kuno, catatan hukum, bukti pemakaman, hingga representasi artistik, studi ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan hamil dalam budaya Viking bukanlah sosok pasif seperti yang lazim diasumsikan. Sebaliknya, ia adalah simbol kekuatan, bahkan perlawanan.

Dalam Hikayat Laxardal, Guðrún Ósvífrsdóttir yang sedang hamil menghadapi pembunuh suaminya dan dilecehkan secara simbolis rahimnya disebut sebagai tempat tumbuhnya balas dendam.

Di kisah lain, Freydís Eiríksdóttir, yang tengah mengandung, menghadapi serangan dengan membuka pakaian atasnya dan mengangkat pedang, menakut-nakuti musuh dengan keberaniannya.

Aksi ini mencerminkan ikonografi unik dari patung perak yang ditemukan di Aska, Swedia—menggambarkan wanita hamil bersenjata, satu-satunya artefak seperti itu dari era Viking.

Patung tersebut membalik narasi dominan tentang keibuan pasif. Ia menjadi bukti bahwa tubuh hamil adalah bagian dari konstruksi identitas budaya, tidak hanya dikaitkan dengan kehidupan dan kelahiran, tapi juga dengan kekerasan dan perlawanan.

Namun, realitas sosial kehamilan tetap keras. Dari ribuan situs pemakaman Viking, hanya sedikit (sekitar 14) yang menunjukkan pemakaman ibu dan bayi bersama.

Bayi bahkan lebih sering ditemukan dalam konteks yang janggal dikubur dengan laki-laki dewasa, perempuan lanjut usia, atau bahkan di dalam rumah.

Ini memperlihatkan bahwa tidak semua kehidupan baru dianggap layak dimakamkan sebagaimana orang dewasa.

Penelitian ini juga mengangkat isu kelas dan perbudakan. Dalam teks hukum, perempuan hamil yang diperbudak dianggap cacat saat dijual, dan anak yang mereka lahirkan dianggap sebagai properti.

Hal ini mengungkap dehumanisasi mendalam terhadap tubuh perempuan dari kalangan bawah.

Kesimpulan dari studi ini memperluas cara pandang arkeolog terhadap tubuh dan pengalaman perempuan.

Peneliti menekankan bahwa isu-isu seperti kehamilan, yang selama ini dianggap pribadi atau biologis, sebenarnya memiliki dimensi politik yang sangat dalam.

Politik, dalam konteks ini, tidak hanya terjadi di medan perang, melainkan juga pada tubuh yang kerap terpinggirkan dalam narasi sejarah.

Penelitian ini mengajak akademisi dan publik untuk meninjau ulang siapa yang layak mendapatkan tempat dalam sejarah, dan bagaimana tubuh-tubuh yang dilupakan menyimpan cerita penting tentang gender, kekuasaan, dan identitas di masa lalu.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#kesetaraan #fakta #Politik #penelitian #kehamilan #arkeolog #kuno #viking #sejarah #hukum