Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Terjawab Sudah Misteri Beton Romawi yang Super Kuat dan Awet Ribuan Tahun Tanpa Retak

Via Ponamon • Selasa, 20 Mei 2025 | 09:00 WIB

Bangsa Romawi membangun Pantheon sekitar 2.000 tahun yang lalu, tetapi bangunan itu sangat kokoh sehingga orang-orang masih menggunakannya hingga hari ini. (Kredit gambar:Jorg Greuel via Getty Images)
Bangsa Romawi membangun Pantheon sekitar 2.000 tahun yang lalu, tetapi bangunan itu sangat kokoh sehingga orang-orang masih menggunakannya hingga hari ini. (Kredit gambar:Jorg Greuel via Getty Images)

 

RADARPAPUA – Bangunan-bangunan Romawi kuno seperti Pantheon di Roma dan saluran air di Segovia, Spanyol, telah berdiri kokoh selama lebih dari 2.000 tahun.

Rahasia di balik ketahanan luar biasa ini akhirnya terungkap oleh para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science Advances mengungkap bahwa beton Romawi memiliki kemampuan "self-healing" atau memperbaiki diri sendiri.

Kemampuan ini berasal dari teknik pencampuran panas (hot mixing) yang digunakan oleh para insinyur Romawi kuno.

Dalam proses ini, quicklime (kalsium oksida) dicampur langsung dengan air dan bahan lainnya, menghasilkan reaksi eksotermis yang menghasilkan suhu tinggi. Proses ini menciptakan partikel kecil yang disebut lime clasts. 

Baca Juga: Qualcomm Resmi Umumkan Snapdragon 8 Elite 2 Hadir Lebih Awal di Snapdragon Summit September

Ketika retakan muncul dalam beton, air yang masuk akan bereaksi dengan lime clasts, menghasilkan larutan kaya kalsium yang kemudian mengendap sebagai kalsium karbonat.

Endapan ini mengisi retakan dan memperkuat struktur beton, memungkinkan bangunan untuk "menyembuhkan" dirinya sendiri seiring waktu. 

Sebelumnya, keberadaan lime clasts dianggap sebagai hasil dari pencampuran yang tidak sempurna atau kualitas bahan yang rendah.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan partikel ini justru memberikan manfaat besar dalam ketahanan beton. 

Selain itu, penggunaan abu vulkanik dari wilayah sekitar Napoli, yang dikenal sebagai pozzolana, juga berkontribusi pada kekuatan dan ketahanan beton Romawi.

Pozzolana bereaksi dengan kalsium hidroksida untuk membentuk senyawa yang memperkuat beton dan membuatnya tahan terhadap lingkungan laut. 

Penemuan ini tidak hanya menjelaskan keajaiban teknik bangunan Romawi kuno, tetapi juga membuka peluang untuk mengembangkan beton modern yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Arkeolog Temukan Fakta Mengejutkan soal Tubuh Hamil di Era Viking dari Kuburan, Patung, dan Hukum Kuno

Dengan meniru teknik pencampuran panas dan penggunaan bahan alami seperti pozzolana, para insinyur masa kini dapat menciptakan beton yang mampu memperbaiki dirinya sendiri, mengurangi kebutuhan akan perbaikan, dan memperpanjang umur infrastruktur.

Sebagai contoh, para peneliti telah berhasil mereplikasi teknik ini dalam laboratorium dan menemukan bahwa beton yang dihasilkan menunjukkan kemampuan self-healing yang serupa dengan beton Romawi.

Hal ini menunjukkan potensi besar untuk aplikasi dalam konstruksi modern, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan akan infrastruktur yang berkelanjutan. 

Dengan memahami dan mengadopsi teknik kuno ini, kita tidak hanya menghormati warisan teknik Romawi, tetapi juga mengambil langkah maju dalam menciptakan dunia yang lebih tahan lama dan berkelanjutan.(RP)

 

Sumber : livescience.com

 

 

Editor : Via Ponamon
#beton Romawi #ketahanan beton #teknik pencampuran panas #konstruksi berkelanjutan