Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Bayi di Bordil Abad ke-14: Temuan Mengejutkan dari Kota Aalst

Prisilia Rumengan • Senin, 26 Mei 2025 | 22:20 WIB

Detail bayi yang terkubur (AA.OV/161).
Detail bayi yang terkubur (AA.OV/161).

RADARPAPUA - Pada tahun 1998, penggalian arkeologi di Aalst, Belgia, mengungkap bangunan abad ke-14 yang ternyata adalah rumah bordil. Temuan paling mengejutkan datang dari dalam lantainya—jasad seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terkubur rapi di dekat perapian. Temuan ini memicu banyak pertanyaan: Siapa bayi ini? Mengapa dikubur di sana?

Hampir dua dekade kemudian, penelitian oleh Dr. Maxime Poulain dan timnya mengungkap fakta mengejutkan. Tes DNA kuno dan analisis isotop menunjukkan bayi ini tidak meninggal karena kelaparan atau penyakit bakteri seperti pes atau kolera. Ia tampak dirawat dengan baik, bahkan diberi ASI secara teratur, menyiratkan adanya ikatan emosional dengan ibunya.

Dalam konteks sejarah, bordil kerap dikaitkan dengan infanticide atau pembunuhan bayi. Namun, bayi yang ditemukan ini berusia tiga bulan, jauh lebih tua dari bayi baru lahir yang biasanya menjadi korban infanticide. Ini memperkuat kemungkinan bahwa sang ibu tidak membunuh anaknya, melainkan sang bayi meninggal karena infeksi atau penyakit yang tak terdeteksi oleh tes modern.

Misteri bertambah karena jasad bayi ini tidak dikuburkan di pemakaman, seperti lazimnya praktik abad pertengahan. Salah satu hipotesis adalah bahwa bayi ini belum dibaptis. Namun, pembaptisan bisa dilakukan siapa saja saat darurat, bahkan oleh pengelola bordil. Faktor lain adalah biaya pemakaman yang mahal, yang bisa menjadi penghalang bagi keluarga miskin untuk mendapat tempat di kuburan resmi.

Lokasi penguburan—tepat di samping perapian—mungkin bukan kebetulan. Dalam kepercayaan abad pertengahan, roh orang yang meninggal bisa tetap tinggal di sekitar perapian. Bisa jadi, sang ibu mengubur anaknya di sana agar tetap “hangat,” atau agar jiwanya bisa tinggal dekat dengannya dalam kematian.

Penemuan ini menantang narasi lama yang cenderung memandang kehidupan di rumah bordil secara sempit. Bukannya kisah kekerasan dan pengabaian, ini adalah jejak dari kasih sayang dan duka. Penelitian lanjutan di situs ini dan lokasi lain seperti Bruges akan memberi wawasan lebih dalam mengenai kehidupan dan kematian yang terlupakan dari masa lalu.(aj)

 

 
Editor : Prisilia Rumengan
#Eropa #Bayi #rumah bordil #Belgia #arkeologi #abad pertengahan #sejarah