Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Masyarakat Kuno di Qurayyah Gunakan Tanaman Harmal untuk Pengobatan Rumah Tangga Sejak Ribuan Tahun Lalu

Prisilia Rumengan • Senin, 26 Mei 2025 | 23:12 WIB

Salah satu alat fumigasi kuno yang digunakan untuk menghirup harmal.(credit : Hans Sell)
Salah satu alat fumigasi kuno yang digunakan untuk menghirup harmal.(credit : Hans Sell)

RADARPAPUA - Tim arkeolog internasional berhasil mengungkap bukti awal penggunaan tanaman psikoaktif Peganum harmala atau harmal untuk pengasapan sekitar 2.700 tahun lalu di permukiman oasis Qurayyah, barat laut Arab Saudi.

Berbeda dari asumsi umum bahwa pengasapan tanaman dilakukan dalam konteks keagamaan atau pemakaman, temuan ini justru menunjukkan praktik tersebut terjadi dalam lingkungan rumah tangga.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Barbara Huber dari Institut Geoantropologi Max Planck dan Prof. Marta Luciani dari Universitas Wina, bekerja sama dengan Komisi Warisan Kementerian Kebudayaan Arab Saudi.

Melalui analisis residu pada perangkat pengasapan keramik kuno dengan teknologi HPLC-MS/MS (kromatografi cair-spektrometri massa tandem), tim berhasil mengidentifikasi kandungan alkaloid seperti harmine dan harmane dari biji harmal.

Menurut Dr. Huber, ini adalah bukti kimia tertua di dunia tentang praktik pembakaran harmal, membuktikan bahwa masyarakat Arab kuno telah memahami pemanfaatan tanaman lokal jauh sebelum adanya catatan tertulis mengenai ilmu pengobatan.

Peganum harmala dikenal memiliki efek farmakologis kompleks. Senyawa alkaloidnya merupakan penghambat enzim MAO-A yang dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Efeknya bisa bervariasi dari pereda nyeri hingga menimbulkan halusinasi, tergantung dosis.

Menariknya, masyarakat Qurayyah membakar biji dan menghirup asapnya, sebuah metode yang dinilai lebih aman karena menghindari toksisitas akibat konsumsi langsung.

Temuan residu tanaman ini ditemukan di dalam ruang rumah tangga, halaman, area memasak, hingga ruang bawah tanah mengindikasikan bahwa penggunaannya bersifat domestik dan terapeutik.

Di sisi lain, penelitian juga mencatat perbedaan pemanfaatan tanaman berdasarkan konteks sosial.

Di oasis tetangga, ditemukan zat aromatik seperti resin Commiphora dan konifera yang digunakan di area pemakaman, menunjukkan perbedaan fungsional antara ritual rumah tangga dan spiritual.

Ahmed M. Abualhassan, salah satu direktur proyek Qurayyah dari Komisi Warisan Saudi, menyatakan bahwa penemuan ini bukan hanya tentang benda arkeologis, tapi juga tentang pelestarian warisan pengetahuan kuno yang masih bergaung dalam kehidupan masyarakat modern.

Di beberapa wilayah Arab, harmal masih digunakan untuk pengobatan tradisional maupun pengasapan rumah.

Lebih jauh, para peneliti menekankan bahwa residu organik seperti ini menyimpan potensi besar bagi dunia farmasi modern.

Mereka percaya bahwa mempelajari senyawa bioaktif dari masa lalu bisa membuka peluang bagi penemuan obat-obatan baru, terutama dari praktik etnobotani yang kini mulai terlupakan.

Dengan makin terkikisnya pengetahuan lokal akibat modernisasi dan globalisasi, para peneliti menyerukan pentingnya dokumentasi dan pelestarian praktik kuno.

Melalui studi ini, mereka berharap dapat menyambungkan kembali benang pengetahuan yang telah berlangsung ribuan tahun. (Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#masyarakat kuno #pengobatan tradisional #arkeologi #Peradaban Kuno #tanaman