RADARPAPUA - Penemuan mencengangkan datang dari Yunani utara, tepatnya di situs makam Kasta, salah satu monumen pemakaman terbesar dari era Makedonia kuno.
Penelitian terbaru yang diterbitkan di Nexus Network Journal mengungkap bahwa makam ini kemungkinan besar dirancang dengan cermat untuk berinteraksi dengan cahaya matahari pada momen astronomi penting, seperti titik balik matahari musim dingin.
Peneliti Demetrius Savvides, yang melakukan studi ini, menggunakan teknologi pemodelan 3D dan perangkat lunak simulasi astronomi guna memahami bagaimana sinar matahari menyinari interior makam sepanjang tahun.
Ia menemukan bahwa pada 21 Desember, sinar matahari bergerak secara presisi ke ruang terdalam makam dan menyinari satu titik khusus yang diyakini sebagai lokasi sarkofagus Hephaestion, jenderal dan sahabat paling dekat Alexander Agung.
Lebih dari sekadar fenomena optik, Savvides menjelaskan bahwa orientasi asli makam sengaja diubah saat pembangunan agar memungkinkan interaksi cahaya ini.
Tujuan spiritual di balik rancangan tersebut berkaitan dengan simbolisme Yunani kuno tentang kelahiran kembali, keabadian, dan tatanan kosmik.
Makam Kasta, yang ditemukan pada 2012, memiliki keindahan arsitektur yang memukau—caryatid yang menjulang, tangga artistik, serta mosaik penculikan Persephone yang menggambarkan mitos dunia bawah.
Para arkeolog telah lama menduga bahwa makam ini dibangun untuk menghormati Hephaestion yang wafat pada 324 SM.
Simulasi Savvides tidak hanya mencatat kejadian pada titik balik matahari musim dingin, tetapi juga menunjukkan bagaimana cahaya matahari perlahan masuk ke dalam makam sepanjang tahun, menerangi patung sphinx, ukiran, hingga mosaik pada waktu-waktu tertentu.
Khusus pada musim gugur, cahaya matahari masuk dari antara sphinx dan mencapai pencahayaan maksimal di ruang pemakaman, membentuk efek teatrikal yang mengesankan.
Ikonografi dalam makam ini juga memperkuat makna spiritualnya. Terdapat figur Persephone, dewi dunia bawah dan musim panen, serta Cybele, dewi agung ibu para dewa.
Simbol seperti mawar dan banteng upacara menambah elemen sakral, menunjukkan bahwa tempat ini tidak hanya untuk pemakaman, melainkan sebagai ruang ritual transendental antara dunia fana dan abadi.
Savvides bahkan berspekulasi bahwa pernah ada patung besar di ruang dalam yang dirancang untuk berinteraksi langsung dengan sinar matahari di hari-hari tertentu. Bukti ini berasal dari ruang kosong pada mosaik dan posisi tangan caryatid yang tampak seperti pernah memegang benda ritual.
Meski sebagian pihak skeptis terhadap teori ini, Savvides meyakini bahwa rancangan cahaya tersebut tidaklah kebetulan.
Walau kadang tertutup awan, pola pencahayaan tersebut memiliki makna besar dalam konteks arsitektur Hellenistik yang menyatukan ilmu astronomi, spiritualitas, dan legitimasi kekuasaan.
Makam Kasta menjadi bukti nyata bagaimana para penguasa zaman kuno, termasuk Alexander Agung, menggunakan simbol langit untuk membangun citra abadi.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan