RADARPAPUA - Penemuan alat dari tulang paus di sepanjang pesisir Prancis dan Spanyol mengubah pemahaman kita tentang bagaimana manusia Zaman Batu bertahan hidup dan memanfaatkan lingkungannya.
Berdasarkan studi terbaru yang diterbitkan dalam Nature Communications, para peneliti berhasil mengidentifikasi 83 alat dari tulang dan 90 fragmen tulang tambahan yang berasal dari sekitar 20.000 tahun lalu.
Penemuan ini menandai bukti tertua penggunaan tulang paus sebagai alat oleh manusia purba.
Tim peneliti internasional dari ICTA-UAB Barcelona, CNRS Prancis, dan Universitas British Columbia menganalisis temuan dari 26 situs arkeologi di sekitar Teluk Biscay, termasuk Gua Santa Catalina di Spanyol utara.
Dengan menggunakan teknologi ZooMS (penandaan massa peptida kolagen) dan penanggalan radiokarbon, mereka menentukan bahwa sebagian besar alat tersebut seperti ujung panah dan batang tombak dibuat dari tulang lima spesies paus, termasuk paus sperma, paus biru, dan paus abu-abu.
“Temuan ini menunjukkan bahwa komunitas Paleolitik tidak hanya berburu di daratan, tapi juga memanfaatkan bangkai paus yang terdampar untuk bertahan hidup,” ujar Dr. Manuel Will, salah satu peneliti dari Universitas British Columbia.
Ia menjelaskan bahwa meskipun manusia purba tidak memiliki teknologi maritim untuk berburu paus secara aktif, bangkai paus yang terdorong ke pantai memberikan sumber daya penting seperti daging, minyak, dan tulang keras.
Beberapa alat tulang yang ditemukan memiliki panjang lebih dari 15 inci dan memperlihatkan tanda-tanda pengolahan yang cermat.
Sementara itu, 90 tulang utuh dari Gua Santa Catalina diyakini telah dihancurkan untuk mengambil minyak lemak nutrisi vital dalam iklim dingin ekstrem Zaman Es.
Lebih lanjut, penelitian ini juga memberikan wawasan ekologis penting. Analisis kimia tulang menunjukkan bahwa pola makan paus purba kemungkinan berbeda dari paus modern.
Spesies seperti paus abu-abu, yang kini hidup di Samudra Pasifik Utara, dahulu ditemukan di Atlantik, menandakan perubahan ekosistem laut yang signifikan selama ribuan tahun.
Penelitian ini mematahkan asumsi bahwa manusia Paleolitik hanya mengandalkan daratan untuk bertahan hidup.
Sebaliknya, mereka terbukti cerdik dalam memanfaatkan peluang di lingkungan pesisir. Dr. Lucille Grinell dari CNRS menambahkan, “Ini membuka kemungkinan baru bahwa masyarakat prasejarah mungkin mengembangkan metode sistematis dalam mengelola bangkai laut.”
Karena permukaan laut saat Zaman Es lebih rendah sekitar 400 kaki dibanding sekarang, sebagian besar situs purba pesisir kemungkinan besar telah tenggelam.
Temuan seperti ini menjadi sangat berharga dalam menyusun kembali sejarah adaptasi manusia terhadap kondisi ekstrem.
Penelitian lanjutan diharapkan dapat mengungkap lebih lanjut bagaimana pengetahuan dan keterampilan manusia purba dalam memanfaatkan laut berkembang dari aktivitas sederhana seperti memungut bangkai menjadi tradisi maritim yang kompleks.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan