RADARPAPUA - Penelitian genetika terbaru mengubah cara pandang dunia terhadap keruntuhan peradaban Maya Klasik.
Studi yang dipublikasikan pada 28 Mei di jurnal Current Biology mengungkapkan bahwa masyarakat Maya tidak punah seperti yang sering diasumsikan, melainkan mengalami transformasi sosial yang mendalam.
Dipimpin oleh Shigeki Nakagome, asisten profesor di Trinity College Dublin, tim ilmuwan menganalisis DNA dari tujuh kerangka yang ditemukan di sekitar situs Copán, kota kuno di barat Honduras.
Copán dulunya adalah pusat politik dan budaya penting di dunia Maya, yang mencapai puncak kejayaannya sebelum mulai merosot sekitar tahun 750 Masehi.
Genom yang berhasil diekstraksi berasal dari individu berbagai status sosial—termasuk satu yang diduga penguasa dinasti dan satu yang diyakini sebagai korban pengorbanan. Hasil analisis menunjukkan adanya kesinambungan genetik yang kuat dari masyarakat Arkaik Akhir (sekitar 3700–1000 SM) hingga masyarakat Maya modern. “Populasi tidak hilang, mereka hanya berubah,” ujar Nakagome kepada Live Science.
Selama masa kejayaan Maya antara tahun 250–900 Masehi, Copán ternyata menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok etnis.
Data genetika menunjukkan adanya migran dari wilayah pegunungan Meksiko yang kemungkinan besar berasal dari kota-kota besar Maya lainnya seperti Chichén Itzá.
Mereka dipercaya menduduki posisi elit, termasuk pendiri dinasti Copán, K’inich Yax K’uk’ Mo’, yang menurut tulisan kuno adalah pendatang dari luar kota.
Salah satu temuan menarik adalah dua pria dari garis keturunan Y yang sama—satu dimakamkan secara terhormat dan satu lagi sebagai korban persembahan.
Mereka bukan kerabat dekat, yang menunjukkan bahwa struktur sosial Maya lebih kompleks dari yang sebelumnya diperkirakan, dan status sosial tidak selalu diwariskan lewat keluarga.
Menggunakan model genetika populasi, para peneliti memperkirakan bahwa Copán pernah dihuni oleh sekitar 19.000 jiwa pada puncaknya di tahun 730 Masehi. Kemakmuran itu didukung oleh kemajuan dalam pertanian, khususnya jagung.
Namun, pada pertengahan abad ke-8, populasi mulai menurun drastis seiring dengan kekeringan, konflik politik, dan krisis sumber daya.
Berbeda dengan narasi klasik tentang "kehancuran misterius", Nakagome dan timnya menekankan bahwa yang terjadi adalah perubahan struktur sosial dan budaya besar-besaran.
“Genetika menunjukkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Mereka tetap di sana, tapi hidup mereka berubah,” jelas Nakagome.
Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memahami sejarah peradaban kuno.
Analisis DNA kuno membuka wawasan baru tentang ketahanan masyarakat Maya—menunjukkan bahwa meskipun kerajaan runtuh, orang-orangnya bertahan dan terus membentuk identitas mereka hingga kini.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan