Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Kondom Abad ke-19 Bergambar Erotis Dipamerkan di Rijksmuseum

Richard Lawongan • Rabu, 4 Juni 2025 | 13:19 WIB

Gambar yang disediakan oleh Rijksmuseum ini menunjukkan kondom bermotif, sekitar tahun 1830, yang dipajang di Rijksmuseum Amsterdam.
Gambar yang disediakan oleh Rijksmuseum ini menunjukkan kondom bermotif, sekitar tahun 1830, yang dipajang di Rijksmuseum Amsterdam.

RADARPAPUA - Rijksmuseum di Belanda kembali mengejutkan publik dengan menampilkan artefak unik: sebuah kondom berusia hampir 200 tahun yang dihiasi gambar erotis. Objek langka ini menjadi bagian dari pameran bertema “Safe Sex?” yang mengeksplorasi seksualitas dan kerja seks pada abad ke-19.

Diperkirakan dibuat sekitar tahun 1830, kondom ini terbuat dari usus domba, material yang lazim digunakan sebelum adanya lateks modern. Lebih dari sekadar alat kontrasepsi, benda ini diyakini sebagai suvenir dari rumah bordil—dan menggambarkan sisi ganda hubungan antara seks, seni, dan kesehatan.

Yang membuatnya mencolok adalah gambar erotis di permukaannya: seorang biarawati bersama tiga pendeta. Ini tidak hanya mengundang tawa dan keterkejutan, tapi juga mengangkat diskusi tentang batas antara tabu dan ekspresi budaya pada masa itu.

Tulisan dalam bahasa Prancis, “C’est mon choix” (“Ini pilihanku”), menghiasi kondom tersebut. Frasa ini merujuk pada lukisan terkenal “The Judgment of Paris” karya Renoir, di mana pangeran Troya memilih satu dari tiga dewi kecantikan—sebuah metafora klasik tentang pilihan dan hasrat.

Pameran ini menyoroti bagaimana isu kesehatan seksual dan kerja seks telah menjadi bagian dari diskursus sosial selama berabad-abad. Melalui artefak langka ini, museum ingin menunjukkan bahwa humor, ironi, dan seni sering menjadi sarana dalam membicarakan topik sensitif.

Dengan memasukkan objek seperti ini ke dalam ruang seni, Rijksmuseum turut mengaburkan batas antara sejarah dan budaya pop, mengajak pengunjung merefleksikan bagaimana norma-norma seksual berkembang—dan bagaimana warisan masa lalu masih berbicara hingga kini.(aj)

 
 
 
 
 
Editor : Richard Lawongan
#artefak #erotis #kondom #Rijksmuseum #seni #budaya #sejarah