Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ilmuwan Inggris Bantah Kaitan Antara Fosil Protoceratops di Asia Tengah dengan Mitos Griffin Kuno

Prisilia Rumengan • Rabu, 4 Juni 2025 | 17:01 WIB

Griffin telah menjadi tokoh penting dalam seni dan sastra mitologi setidaknya sejak milenium ke-4 SM. Ilustrasi oleh L. Gruner, dari Layard (1853)
Griffin telah menjadi tokoh penting dalam seni dan sastra mitologi setidaknya sejak milenium ke-4 SM. Ilustrasi oleh L. Gruner, dari Layard (1853)

RADARPAPUA – Selama lebih dari tiga dekade, banyak orang percaya bahwa legenda griffin makhluk bersayap kepala elang dan bertubuh singa berakar dari penemuan fosil dinosaurus kuno.

Namun, sebuah studi terbaru oleh dua paleontolog dari Universitas Portsmouth, Dr. Mark Witton dan Richard Hing, membantah anggapan tersebut secara tegas.

Studi yang dipublikasikan dalam Interdisciplinary Science Reviews itu meninjau ulang klaim Adrienne Mayor, seorang peneliti folklor ternama, yang menyebut bahwa penambang emas nomaden di Asia Tengah menemukan fosil Protoceratops dan menganggapnya sebagai griffin.

Protoceratops merupakan dinosaurus pemakan tumbuhan yang hidup sekitar 75 juta tahun lalu dan memiliki paruh seperti burung serta tengkorak unik.

Witton dan Hing menyatakan bahwa bukti geografis dan arkeologis tidak mendukung teori Mayor. “Tidak ditemukan emas di area situs fosil Protoceratops, dan sangat kecil kemungkinan penambang emas kuno menemukan tulangnya,” ujar Witton.

Ia juga menegaskan bahwa fosil biasanya tidak terlihat jelas di permukaan tanah, sehingga sulit untuk membentuk narasi mitologi darinya.

Lebih lanjut, mereka menyebut bahwa sebaran seni dan cerita tentang griffin justru berasal dari Mesir dan Timur Tengah, jauh dari lokasi fosil Protoceratops ditemukan di Mongolia.

Ini memperkuat asumsi bahwa griffin bukanlah hasil dari pengamatan terhadap fosil, melainkan murni hasil imajinasi sebagai makhluk chimera gabungan kucing besar dan burung pemangsa.

Hing menambahkan bahwa penting untuk membedakan antara folklore fosil yang memiliki dasar bukti dan sekadar spekulasi.

“Menghubungkan mitos dengan fosil harus didasarkan pada data nyata baik arkeologi, geografi, maupun paleontologi. Kalau tidak, itu hanya intuisi yang menarik tapi tidak valid,” jelasnya.

Studi ini juga menilai bahwa persamaan anatomi antara Protoceratops dan griffin terlalu lemah untuk membentuk dasar narasi yang masuk akal.

Meski karyanya mendapatkan perhatian luas, klaim Adrienne Mayor dianggap kurang kokoh dari sisi akademik.

Penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa tak semua legenda memiliki akar pada fakta ilmiah.

Griffin, sebagaimana unicorn atau naga, kemungkinan besar adalah makhluk fiktif yang lahir dari kreativitas manusia kuno, bukan dari tulang-tulang dinosaurus yang terkubur jutaan tahun lalu.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#hewan purba #fosil #arkeolog #hewan mitologi #Ilmuwan #griffin