RADARPAPUA - Di balik pegunungan dan pesisir Papua Nugini yang dihuni lebih dari 800 bahasa, para ilmuwan baru saja membuka tabir sejarah migrasi manusia yang paling awal. Untuk pertama kalinya, genom kuno dari wilayah ini berhasil dipulihkan, mengungkap asal-usul genetik dan budaya masyarakat pesisir prasejarah.
Penelitian yang diterbitkan di Nature Ecology & Evolution ini dipimpin oleh Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology. Dengan menggabungkan DNA kuno, bukti pola makan, dan bahasa, studi ini menyusun ulang kisah para pelaut awal yang menjelajah Samudra Pasifik lebih dari 3.000 tahun lalu, termasuk para pembawa budaya Lapita yang legendaris.
Budaya Lapita, dikenal dari tembikar rumit dan sistem pertaniannya, menjadi tonggak migrasi manusia ke pulau-pulau jauh seperti Vanuatu dan Tonga. Namun, hingga kini, warisan genetik dari para pionir laut ini belum pernah terungkap secara langsung—hingga ditemukannya DNA kuno dari Pulau Watom di Kepulauan Bismarck.
Temuan mengejutkan menunjukkan bahwa orang-orang dengan DNA murni Papua tinggal di pulau yang sama di mana artefak budaya Lapita ditemukan. Mereka hidup setelah kedatangan budaya Lapita, namun tidak langsung bercampur secara genetik. Salah satu individu bahkan menunjukkan modifikasi tengkorak khas budaya tertentu, tanda hidup berdampingan dari dua komunitas berbeda.
Fakta bahwa mereka hidup bersama namun tidak langsung menikah silang menunjukkan interaksi yang kompleks. Genom dari 2.100 tahun lalu memperlihatkan baru mulai ada campuran dengan kelompok pendatang dari ekspansi Austronesia. Ini mendukung teori bahwa migrasi ke Pasifik timur diawali oleh kelompok non-campuran, yang baru bercampur kemudian.
Lebih jauh lagi, salah satu individu memberi petunjuk baru tentang asal usul pemukiman Kepulauan Mariana di utara Papua. Profil genetiknya menunjukkan asal-usul dari Asia Tenggara Maritim, bukan dari arah timur Papua, menegaskan hebatnya kemampuan navigasi manusia awal melawan arus laut dan angin.
Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan lintas disiplin—menggabungkan arkeologi, genetika, dan tradisi lokal—dalam mengungkap sejarah manusia. Di tengah tantangan iklim tropis dan jejak kolonialisme, temuan ini membuka lembaran baru dalam memahami asal-usul dan keragaman budaya di Pasifik.(aj)