Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Peneliti Ungkap Evolusi Homo Sapiens Berasal dari Afrika dan Menyebar ke Seluruh Dunia

Prisilia Rumengan • Minggu, 8 Juni 2025 | 18:46 WIB

Ilustrasi tengkorak (canva.com)
Ilustrasi tengkorak (canva.com)

RADARPAPUA – Evolusi manusia adalah kisah panjang dan menakjubkan yang berlangsung selama lebih dari 300.000 tahun.

Spesies kita, Homo sapiens yang berarti “manusia bijaksana” dalam bahasa Latin, pertama kali dinamai oleh ilmuwan Swedia, Carl Linnaeus, pada 1758.

Namun, penjelasan mendalam tentang asal-usul manusia datang dari Charles Darwin melalui teori evolusi yang ia kemukakan pada tahun 1859.

Teori ini menjelaskan bahwa manusia, seperti makhluk hidup lainnya, mengalami perubahan bertahap untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Bukti awal menunjukkan bahwa manusia pertama kali berevolusi di Afrika. Fosil manusia tertua yang ditemukan di Jebel Irhoud, Maroko, diperkirakan berusia lebih dari 300.000 tahun.

Walau wajah mereka tidak sama persis dengan manusia modern, mereka sudah mampu membuat alat dan mengekspresikan diri lewat seni.

Ilmuwan kini juga menggunakan DNA modern untuk memetakan perjalanan manusia, yang diperkirakan mungkin sudah dimulai sejuta tahun lalu, dari berbagai wilayah Afrika.

Setelah berevolusi di Afrika, manusia mulai menjelajah dunia. Sekitar 200.000 tahun lalu, mereka mulai bermigrasi ke luar benua.

Dari Timur Tengah hingga Eropa, Australia, hingga akhirnya mencapai Amerika, manusia menyebar mencari tempat tinggal baru.

Jejak awal manusia ditemukan di New Mexico sekitar 21.000 tahun lalu dan hingga ujung selatan Amerika, yakni Chile, 14.000 tahun lalu.

Perbedaan warna kulit manusia juga merupakan hasil dari evolusi. Awalnya, sebagian besar manusia memiliki kulit gelap.

Namun, mutasi genetik yang terjadi sekitar 14.000–3.000 tahun lalu menyebabkan munculnya variasi warna kulit, terutama pada masyarakat di Eropa Utara yang menerima paparan sinar matahari lebih sedikit.

Kulit cerah memudahkan penyerapan vitamin D, yang penting untuk kesehatan tulang dan kekebalan tubuh.

Sebaliknya, kulit gelap melindungi dari radiasi ultraviolet di daerah dengan paparan matahari tinggi.

Kini, teknologi dan gaya hidup modern membuat manusia mampu beradaptasi di berbagai lingkungan, terlepas dari warna kulit.

Kita telah menciptakan cara memperoleh vitamin D dari makanan dan melindungi tubuh dari sinar matahari menggunakan pakaian, tabir surya, dan tempat tinggal.

Dan ya, manusia masih berevolusi. Contoh yang paling nyata adalah hilangnya gigi geraham bungsu pada banyak orang modern akibat perubahan pola makan.

Contoh lainnya adalah gen EPAS1 yang memungkinkan penduduk Tibet bertahan di dataran tinggi dengan kadar oksigen rendah.

Dalam waktu sekitar 2.700 tahun, gen ini menyebar cepat di populasi Tibet karena memberikan keuntungan besar dalam lingkungan ekstrem.

Evolusi bukan hanya cerita masa lalu. Ini adalah proses yang terus berlangsung, membentuk manusia seiring waktu berdasarkan lingkungan dan kebutuhan hidup.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#homo sapiens #dunia #dna #Menyebar #afrika #sejarah #manusia purba #Evolusi