RADARPAPUA - Sebuah tim arkeolog Inggris menemukan serpihan besi yang diduga berasal dari proses pandai besi abad ke-16 di Pulau Hatteras, Carolina Utara.
Temuan ini memunculkan dugaan kuat bahwa "Koloni Hilang" Roanoke tidak musnah begitu saja, tetapi kemungkinan besar berbaur dan hidup bersama masyarakat asli, suku Croatoan.
Mark Horton, profesor arkeologi dari Royal Agricultural University di Inggris, menjelaskan bahwa selama satu dekade terakhir timnya secara berkala melakukan penggalian di situs tersebut.
Penemuan kunci adalah serpihan palu—produk limbah dari aktivitas pandai besi—yang terkubur di bawah tumpukan cangkang.
Lokasi itu hampir tidak mengandung artefak Eropa lain, yang justru menguatkan dugaan bahwa aktivitas tersebut dilakukan oleh kelompok luar, bukan penduduk asli.
“Serpihan palu ini sangat khas,” jelas Horton. “Kolonis Inggris kemungkinan memanfaatkan kembali besi yang mereka bawa untuk membuat paku dan peralatan penting, demi bertahan hidup.”
Ia meyakini bahwa kehadiran benda ini, yang bukan bagian dari barang dagangan dan tidak dikenal oleh masyarakat asli, menjadi indikasi kuat adanya pemukim Eropa di lokasi tersebut pada akhir abad ke-16.
Koloni Roanoke, yang berjumlah sekitar 120 orang, tiba di wilayah Outer Banks pada 1587. Setelah pemimpinnya, John White, kembali ke Inggris untuk mencari persediaan, ia mendapati seluruh koloninya hilang saat kembali tiga tahun kemudian.
Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah ukiran kata “CROATOAN” pada kayu di sekitar pemukiman.
Menurut Horton, serpihan besi yang ditemukan mendukung teori bahwa para kolonis berpindah ke Pulau Hatteras dan bergabung dengan suku Croatoan.
Penanggalan radiokarbon pada lapisan tanah tempat artefak ditemukan cocok dengan periode hilangnya koloni tersebut.
Namun, tidak semua ahli sepakat. Charles Ewen, profesor emeritus arkeologi dari East Carolina University, menyatakan bahwa serpihan palu saja belum cukup sebagai bukti meyakinkan.
“Saya ingin melihat sisa perapian atau struktur penempaan yang menunjukkan aktivitas jelas,” katanya.
Ewen juga menambahkan bahwa benda-benda tersebut bisa saja berasal dari barang peninggalan kolonis yang dipakai ulang oleh suku lokal, atau bahkan dari pelaut Eropa yang sempat singgah.
Kathleen DuVal, sejarawan dari University of North Carolina di Chapel Hill, mendukung temuan Horton. “Secara historis, sangat masuk akal jika kolonis pindah ke Croatoan.
Mereka bahkan meninggalkan petunjuk ke mana mereka pergi,” katanya kepada Live Science.
Horton dan timnya berencana mempublikasikan hasil lengkap penelitian ini, meskipun beberapa bagian situs telah selesai digali.
Situs tersebut terletak di tanah pribadi dan hanya dapat diakses dengan izin pemilik. Ia mengakui bahwa meski serpihan palu memberi petunjuk penting, masih banyak misteri yang tersisa, seperti apakah seluruh koloni berpindah, atau sebagian besar justru tewas lebih awal di Roanoke.
Ewen, yang ikut menulis buku Becoming the Lost Colony (2024), menyatakan bahwa jawaban akhir mungkin baru bisa ditemukan jika ada kuburan Eropa abad ke-16 yang ditemukan dan jika ditemukan bersama benda non-dagangan, yang khas pemukim Inggris.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan