RADARPAPUA - Awan debu Sahara raksasa kembali menarik perhatian dunia setelah berhasil melintasi Samudra Atlantik dan mencapai kawasan Amerika Serikat, termasuk Florida, Louisiana, dan Texas, awal Juni 2025.
Awan debu ini terbentuk di atas Gurun Sahara dan mulai bergerak ke arah barat sejak 28 Mei, membawa partikel halus debu dan pasir sejauh lebih dari 6.500 kilometer ke wilayah Amerika Utara.
Fenomena ini pertama kali terekam oleh satelit GOES-19 milik NASA dan NOAA, yang menunjukkan awan debu raksasa seluas 620.000 kilometer persegi menutupi wilayah antara kepulauan Cabo Verde dan garis pantai Afrika Barat seperti Mauritania, Senegal, dan Guinea-Bissau.
Bentuk awan itu awalnya menyerupai koma tebal, namun kemudian menyebar lebih luas saat menyeberangi lautan.
Tidak hanya satelit, para astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) juga berhasil mengabadikan gambar spektakuler saat debu Sahara itu melintasi Atlantik.
Sesampainya di Florida pada 4 Juni, lapisan debu ini menyebabkan langit tampak kabur dan kualitas udara sempat memburuk selama 48 jam, memberikan dampak langsung pada warga dengan masalah pernapasan.
Debu halus bahkan terlihat menempel di jendela rumah dan mobil.
Selain Florida, debu juga memengaruhi wilayah seperti Louisiana dan Texas, serta beberapa negara di Karibia seperti Bahama dan Puerto Rico.
Fenomena ini tidak berhenti sampai di situ. Antara 13 hingga 15 Juni, awan debu kedua yang lebih kecil juga terdeteksi menyentuh wilayah Amerika Serikat.
Menurut NOAA, debu Sahara tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tapi juga menciptakan pemandangan matahari terbit dan terbenam yang lebih cerah karena sinar matahari tersebar oleh partikel debu.
Selain itu, keberadaan debu dalam jumlah besar diketahui dapat menghambat pembentukan badai petir.
Awan debu seperti ini berasal dari "Lapisan Udara Sahara", yaitu lapisan atmosfer setebal 4 kilometer yang sangat kering dan berada sekitar 1,6 kilometer di atas permukaan tanah.
Hembusan angin kencang di gurun menyebabkan partikel debu terangkat, dan setiap tiga hingga lima hari, debu tersebut terbawa menuju Atlantik. Jika cukup terkonsentrasi, ia membentuk awan besar yang mampu menyeberangi samudra.
Fenomena awan debu Sahara biasanya terjadi antara akhir musim semi hingga awal musim gugur, dengan puncak aktivitas antara Juni dan Agustus.
Salah satu contoh paling mengesankan sebelumnya adalah awan debu “Godzilla” pada Juni 2020, yang menyelimuti wilayah selatan AS dengan intensitas tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir, menurut studi tahun 2021.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan