RADARPAPUA - Selama puncak Zaman Es terakhir, permukaan laut turun lebih dari 120 meter, membuka daratan luas yang kini terendam. Salah satunya adalah dataran Palaeo-Agulhas di pesisir selatan Afrika—padang rumput subur yang dulunya mirip Serengeti masa kini.
Dataran ini menjadi rumah bagi kawanan hewan migrasi dan manusia pemburu-pengumpul. Kini, berkat penggalian di Gua Knysna Eastern Heads, para arkeolog mengetahui lebih banyak tentang kehidupan manusia di kawasan ini sekitar 19.000 tahun lalu.
Gua itu kini menghadap Samudra Hindia dari ketinggian 23 meter, namun pada Zaman Es garis pantai berada 75 km lebih jauh. Lokasi ini menunjukkan jejak hunian manusia dari 48.000 tahun lalu hingga akhir Zaman Es.
Alat-alat batu dari teknologi Robberg ditemukan di sana—kecil dan tajam, kemungkinan besar digunakan sebagai komponen alat berburu. Mereka dibuat dari batu kuarsit lokal dan silcrete yang dipanaskan terlebih dahulu, sumbernya kemungkinan dari Pegunungan Outeniqua sejauh 50 km.
Temuan ini menunjukkan hubungan sosial yang luas. Teknik pembuatan alat serupa ditemukan di berbagai situs di Afrika Selatan, Lesotho, dan Eswatini. Artinya, komunitas Zaman Es kemungkinan berbagi ide dan keterampilan lintas wilayah.
Namun gua Knysna juga unik: jumlah alat berkurang di lapisan atas, menandakan pemakaian yang makin jarang. Ini menunjukkan gua digunakan sebagai kamp sementara, bukan hunian utama—mungkin untuk perburuan musiman atau bertemu kelompok lain.
Temuan ini mengingatkan bahwa manusia Zaman Es tidak terlalu berbeda dari kita. Mereka membangun jaringan sosial, berinovasi, dan hidup dalam lingkungan yang terus berubah—dengan cara yang sangat manusiawi.(aj)