RADARPAPUA - Cincin ini bukan sekadar perhiasan, tapi simbol status spiritual seorang uskup, dihiasi dengan safir ungu langka yang terbukti berasal dari Sri Lanka.
Penelitian oleh tim arkeolog dari Constantine the Philosopher University di Nitra mengonfirmasi bahwa batu safir ini menempuh jalur perdagangan panjang dari Asia Selatan menuju Eropa Tengah melalui Aleppo atau Konstantinopel.
Penemuan yang sempat tersimpan sejak 2001 ini akhirnya diserahkan kepada para ahli pada 2023 dan dipublikasikan pada Juni 2025.
Cincin ini terbuat dari emas 18 karat, dihiasi dengan ukiran singa sebagai simbol kekuatan dan keberanian, serta sering kali digunakan dalam perhiasan pemuka agama tinggi.
Para peneliti menduga kuat bahwa cincin ini milik seorang uskup yang memiliki pengaruh spiritual sekaligus politik di kawasan tersebut pada abad ke-14.
Baca Juga: Ribuan Potongan Lukisan Kuno di London Disatukan Kembali Setelah Absen 1800 Tahun
Teknologi modern seperti Raman spectroscopy dan micro-XRF berhasil mengidentifikasi safir tersebut sebagai jenis corundum, menegaskan asal muasalnya dari Sri Lanka—wilayah yang terkenal akan batu permatanya sejak zaman kuno.
Fakta bahwa batu safir dari Asia Selatan bisa sampai di jantung Eropa menegaskan bahwa perdagangan global sudah terjalin ratusan tahun lalu, jauh sebelum zaman modern.
Ini sekaligus memperkuat bukti hubungan dagang lintas benua yang melibatkan gereja dan kaum bangsawan.
Meski misteri seputar pemilik cincin dan alasan kehilangannya belum terungkap sepenuhnya, konteks sejarah Kastil Zvolen yang mulai menurun di akhir abad ke-14 memberikan petunjuk penting.
Penemuan ini menjadi pintu masuk baru bagi para peneliti untuk memahami jaringan kekuasaan spiritual dan hubungan ekonomi lintas benua di masa lalu.
Dengan latar mewah dan latar sejarah yang kuat, kisah cincin safir ungu dari Sri Lanka ini menjadi bukti bahwa bahkan benda kecil bisa menyimpan cerita besar tentang dunia.(RP)
Sumber : livescience.com
Editor : Via Ponamon