RADARPAPUA - Ramesses II adalah salah satu firaun paling terkenal dari Mesir Kuno. Ia dikenal karena menang dalam banyak peperangan dan membangun banyak bangunan besar. Ia memerintah selama sekitar 66 tahun (dari tahun 1279 sampai 1213 Sebelum Masehi) dan meninggal di usia sekitar 90 tahun — usia yang sangat tua untuk zamannya.
Awalnya, Ramesses II naik takhta setelah ayahnya, Seti I, meninggal. Di awal pemerintahannya, ia berperang melawan bangsa Hittite di wilayah yang sekarang disebut Suriah. Pertempuran besar itu disebut "Pertempuran Kadesh". Meski Ramesses mengaku menang, para ahli sejarah sekarang percaya bahwa sebenarnya tidak ada yang menang.
Setelah berdamai dengan Hittite, Ramesses menikahi seorang putri dari sana. Ia punya banyak istri dan selir, dan diperkirakan memiliki lebih dari 100 anak.
Ramesses juga membangun ibu kota baru bernama Pi-Ramesses. Di kota itu ada banyak patung besar dirinya, bahkan sampai 50 buah!
Saat meninggal, jenazahnya dikuburkan di Lembah Para Raja. Tapi makamnya dijarah, jadi muminya (tubuh yang diawetkan) akhirnya dipindah ke tempat lain dan sekarang disimpan di Museum Nasional Peradaban Mesir di Kairo.
Para ilmuwan yang meneliti muminya menemukan bahwa di usia tua Ramesses menderita radang sendi parah dan sakit gigi yang berat. Tapi mereka tidak bisa memastikan apa penyebab pasti kematiannya. Kemungkinan besar ia meninggal karena usia tua.
Karena Ramesses hidup sangat lama, banyak anaknya sudah meninggal duluan. Akhirnya, anak ke-13-nya yang bernama Merneptah menjadi firaun berikutnya. Tidak ada perebutan takhta saat itu karena saudara-saudaranya sudah wafat.
Namun, setelah Merneptah, cucu Ramesses bernama Seti II sempat menghadapi pemberontakan dari seseorang bernama Amenmesse. Dan beberapa keturunannya juga bertengkar soal siapa yang pantas jadi firaun berikutnya. Hal ini jadi rumit karena Ramesses punya sangat banyak anak dan cucu yang mungkin merasa mereka berhak menjadi raja.
Selain masalah dari dalam, Mesir juga diserang oleh kelompok asing yang disebut "Sea Peoples". Masalah-masalah ini membuat kekuasaan kerajaan Mesir makin melemah.
Ramesses II sangat dihormati di zamannya. Bahkan setelah meninggal, masih ada orang yang menyembahnya sebagai dewa. Nama Ramesses dan gelar kerajaannya terus dipakai oleh firaun-firaun setelahnya, sebagai bentuk penghormatan. (*)
Editor : Richard Lawongan