RADARPAPUA - Di tengah reruntuhan besar Baths of Caracalla di Roma, suara burung camar menggema, seolah memanggil kembali kehidupan 1.800 tahun lalu. Dahulu, pemandian ini merupakan pusat keramaian dan kemewahan kota, kini hanya sesekali digunakan untuk pertunjukan opera.
Pemandian umum (thermae) merupakan bagian penting dari kehidupan Romawi. Sekitar abad ke-4 M, Roma memiliki lebih dari 900 pemandian. Kompleks terbesar, seperti Baths of Diocletian, mampu menampung 3.000 orang per hari dan mencakup kolam panas (caldarium), hangat (tepidarium), dingin (frigidarium), hingga kolam renang luar ruang.
Tak hanya untuk mandi, pemandian juga menyediakan perpustakaan, restoran, hingga gym. Suasana hidup terdengar dari teriakan pedagang, suara tawa, percikan air, hingga nyanyian para pengunjung. Pemandian menjadi tempat berkumpul semua kelas sosial, dari rakyat biasa hingga aristokrat dengan puluhan pelayan.
Pemandian juga menjadi tempat relaksasi spiritual. Minyak harum, pijatan, dan suasana tenang menjadikannya seperti spa kuno. Meski demikian, sistem ini juga disokong oleh kerja keras budak—membersihkan, menjaga api, hingga mengurus tamu elite.
Di seluruh Kekaisaran Romawi, dari Inggris hingga Afrika Utara, pemandian tersebar luas. Kota Bath di Inggris dan Baden-Baden di Jerman adalah contoh nyata peninggalan tersebut. Bahkan di kamp militer Romawi seperti di tembok Hadrian, ditemukan fasilitas pemandian lengkap.
Tradisi mandi umum diwarisi dari Yunani, namun Romawi-lah yang menyebarkannya secara luas. Budaya ini bahkan berlanjut di masa Islam dan Ottoman. Hammam Turki masa kini adalah keturunan langsung pemandian Romawi, mencerminkan kesinambungan budaya yang kuat.
Pemandian Romawi bukan sekadar tempat bersih-bersih, tetapi simbol kemajuan teknologi, integrasi sosial, dan gaya hidup kota kuno. Dari suara camar di Caracalla hingga uap hammam di Istanbul, jejak peradaban ini tetap terasa hingga hari ini.(aj)