RADARPAPUA - Elizabeth Velliky, peneliti utama, menemukan bukti ini saat meneliti artefak lama dan menemukan oker dengan pola aus unik. Setelah diperiksa lebih lanjut bersama timnya, ditemukan lebih banyak potongan serupa, yang menunjukkan bahwa oker dipakai untuk membuat dan merapikan alat batu.
Penelitian mereka, yang diterbitkan di Science Advances, menyatakan bahwa oker tersebut digunakan sebagai "retoucher" dalam proses pemipihan batu (knapping). Teknik ini memerlukan ketelitian tinggi dan mencerminkan keahlian teknis luar biasa manusia zaman itu.
Pola bentuk dan keausan pada oker tersebut cocok dengan teknik tekanan dan pukulan langsung—metode pembuatan alat batu canggih seperti mata panah Still Bay, yang dikenal karena bentuk simetrisnya dan teknik pengerjaannya yang kompleks.
Francesco d’Errico dari tim peneliti menyatakan bahwa tingkat detail pada alat oker ini menunjukkan bahwa mereka adalah milik pribadi para ahli pembuat alat batu. Alat tersebut kemungkinan juga menunjukkan identitas atau status seseorang dalam kelompok.
Temuan ini menantang anggapan lama bahwa oker hanya digunakan untuk keperluan simbolik seperti lukisan atau ritual. Sebaliknya, oker terbukti sebagai bagian penting dalam sistem teknologi komunitas manusia purba di Afrika Selatan.
Karen van Niekerk berharap penelitian ini akan memicu diskusi baru tentang multifungsi oker dalam perilaku manusia purba. Temuan ini memperkaya pemahaman kita tentang modernitas perilaku Homo sapiens awal di wilayah Afrika sub-Sahara.(aj)