Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Rahasia Garum Terungkap: DNA Ikan Romawi Masih Bertahan di Sisa Saus Fermentasi

Prisilia Rumengan • Kamis, 3 Juli 2025 | 12:01 WIB

Sisa ikan dari dasar tong pengasinan, seperti yang ditemukan (a) dan dipisahkan menjadi duri (b), tulang belakang (c) dan sisik (d).
Sisa ikan dari dasar tong pengasinan, seperti yang ditemukan (a) dan dipisahkan menjadi duri (b), tulang belakang (c) dan sisik (d).

RADARPAPUA - Tim peneliti multidisiplin berhasil mengungkap jenis ikan yang digunakan dalam pembuatan garum—saus fermentasi populer di era Romawi—dengan menganalisis DNA dari tulang ikan yang rusak parah. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan tulang yang telah dihancurkan dan difermentasi masih dapat menghasilkan data genetik penting.

Garum adalah saus asin dan kaya rasa umami yang banyak dikonsumsi dan diperdagangkan di seluruh Kekaisaran Romawi. Untuk memproduksinya, pabrik pengawetan ikan berskala besar atau cetariae dibangun, terutama di pesisir Atlantik Hispania (Spanyol modern) dan Tingitana (Maroko modern).

Namun, karena proses produksi garum melibatkan penghancuran ikan, sisa tulangnya sering kali terlalu rapuh untuk diidentifikasi secara visual. DNA menjadi solusi, meskipun fermentasi juga mempercepat degradasi genetik. Tim peneliti pun menguji kemungkinan analisis DNA kuno dari sisa-sisa ikan di lokasi cetaria Adro Vello, Spanyol barat laut.

Melalui perbandingan dengan DNA ikan sarden modern, mereka menemukan bahwa sarden era Romawi sangat mirip secara genetik dengan yang hidup di daerah itu sekarang. Ini membuktikan adanya kesinambungan genetik meski spesies tersebut sangat mobile.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tulang ikan dari lingkungan fermentasi—yang selama ini dianggap terlalu rusak—masih bisa menyimpan informasi DNA. Ini membuka peluang untuk memahami diet, perdagangan, dan ekologi laut masa lampau dengan lebih detail.

"Meski tulangnya sangat fragmentaris, DNA yang tersisa tetap bisa diidentifikasi. Ini penting bagi studi arkeologi makanan dan perikanan kuno," jelas Dr. Paula Campos dari Universitas Porto, penulis utama studi yang diterbitkan di Antiquity.

Dengan metode ini, peneliti bisa memetakan spesies ikan yang digunakan di berbagai situs Romawi lainnya. Garum, yang dulu jadi simbol cita rasa klasik, kini juga membuka rasa penasaran ilmiah terhadap warisan kuliner dan lingkungan masa lampau.(aj)

 
Editor : Prisilia Rumengan
#romawi #Fermentasi #Garum #dna #tulang ikan #arkeologi