Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Pria Mesir Kuno Berusia 5.000 Tahun Ini Punya Darah Mesopotamia dan Hidup dengan Status Sosial Tinggi

Prisilia Rumengan • Kamis, 3 Juli 2025 | 20:27 WIB

Rekontruksi wajah pria Mesir yang genomnya dapat dilacak hingga ke Mesopotamia kuno. (credit: Garstang Museum of Archaeology, University of Liverpool)
Rekontruksi wajah pria Mesir yang genomnya dapat dilacak hingga ke Mesopotamia kuno. (credit: Garstang Museum of Archaeology, University of Liverpool)

RADARPAPUA - Sebuah terobosan ilmiah mengungkap misteri asal usul Mesir Kuno. Para ilmuwan berhasil mengurutkan genom manusia tertua dan paling lengkap dari wilayah tersebut, yang berasal dari seorang pria yang hidup hampir 5.000 tahun lalu.

Temuan ini menawarkan pandangan baru mengenai campuran genetik orang Mesir kuno.

Pria ini hidup pada masa Kerajaan Lama, sekitar tahun 2855–2570 SM, periode penting dalam sejarah Mesir ketika stabilitas politik dan perkembangan monumental seperti pembangunan Piramida Giza sedang berlangsung.

Ia dimakamkan di Nuwayrat, Mesir Hulu, dalam sebuah pot keramik yang disimpan di dalam makam batu, dan pertama kali ditemukan pada tahun 1902.

Keberhasilan pengurutan DNA-nya disambut dengan kejutan dan antusiasme. “Ini adalah peluang yang sangat kecil untuk berhasil,” ujar Pontus Skoglund, pakar DNA kuno dari The Francis Crick Institute, dalam konferensi pers sebelum publikasi studi tersebut.

Suhu tinggi di Mesir sering kali menghancurkan DNA, namun kondisi pemakaman yang unik menjaga struktur jenazah ini dengan baik.

DNA yang diambil dari dua gigi pria itu kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan ribuan data genetik lain.

Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 80 persen gennya berasal dari penduduk Neolitik Afrika Utara, sementara 20 persen sisanya menunjukkan hubungan erat dengan wilayah Timur Tengah kuno, termasuk Mesopotamia.

Menurut arkeolog Linus Girdland-Flink dari Universitas Aberdeen, struktur makam batu dan pot keramik memberikan lingkungan stabil yang memungkinkan pelestarian DNA dalam jangka waktu sangat lama.

“Kondisi ini sangat ideal untuk menjaga material genetik,” ujarnya.

Bukti arkeologis juga mendukung kisah kehidupan sang pria. Menurut Joel Irish, seorang bioarkeolog dari Liverpool John Moores University, pria ini meninggal dalam usia sekitar 44–64 tahun usia yang sangat lanjut pada masa itu. Analisis tulangnya mengungkap tanda-tanda artritis dan osteoporosis tingkat lanjut.

Namun, ia juga menunjukkan ciri-ciri fisik dari aktivitas berat, seperti mengangkat tangan dan duduk lama, yang mengarah pada profesi sebagai tukang gerabah.

Menariknya, meski aktivitas fisiknya berat, cara pemakamannya menunjukkan status sosial tinggi.

Adeline Morez Jacobs, antropolog biologis dari Universitas Padua dan penulis utama studi ini, mengatakan bahwa hasil ini memberikan petunjuk penting bahwa sebagian besar penduduk Mesir Kuno kemungkinan besar berasal dari penduduk lokal Afrika Utara.

“Namun, hubungan genetik dengan wilayah Timur Lembah Subur menunjukkan adanya kontak budaya dan kemungkinan pertukaran genetik yang signifikan,” katanya.

Meski begitu, Morez Jacobs menegaskan bahwa temuan ini berasal dari satu individu, sehingga belum bisa menggambarkan keseluruhan populasi Mesir saat itu.

“Kita masih butuh lebih banyak data untuk membentuk gambaran yang lengkap,” tutupnya.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#arkeolog #penemuan #status sosial #pria mesir #mesopotamia #arkeologi