Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Fenomena Bulan Purnama Buck di Rasi Sagittarius Siap Menghiasi Langit Utara

Prisilia Rumengan • Minggu, 6 Juli 2025 | 22:56 WIB

Ilustrasi full moon (canva.com)
Ilustrasi full moon (canva.com)

RADARPAPUA – Fenomena langit menarik akan terjadi pada Kamis, 10 Juli, ketika bulan purnama yang dikenal sebagai Bulan Buck atau Buck Moon akan menghiasi cakrawala timur saat senja.

Bulan ini merupakan purnama pertama di musim panas astronomi dan menjadi salah satu bulan purnama dengan posisi terendah di langit sepanjang tahun.

Meskipun fase purnama secara astronomi terjadi pukul 16.38 EDT, bulan belum tampak di langit Amerika Utara pada waktu itu karena masih di bawah cakrawala.

Waktu terbaik untuk menyaksikan bulan Buck adalah saat terbit senja di langit timur, di mana ia akan tampak seperti bola oranye besar yang mengambang di ufuk.

Bulan Buck akan melintasi rasi bintang Sagittarius, sebuah konstelasi zodiak yang kerap dikaitkan dengan musim panas.

Sayangnya, rasi ini tidak memiliki bintang terang, sehingga bulan akan tampak sendirian di langit malam.

Karena posisi matahari yang masih tinggi akibat solstis musim panas pada 20 Juni lalu, bulan akan berada di posisi terendahnya dekat cakrawala sepanjang malam dan tidak akan naik tinggi ke langit selatan.

Posisinya yang rendah menciptakan efek visual unik yang dikenal sebagai “ilusi bulan”. Bulan akan terlihat lebih besar dan berwarna lebih jingga dari biasanya, akibat kedekatannya dengan cakrawala serta bias atmosfer.

Selain itu, Bulan Buck juga akan menjadi bulan purnama terjauh dari matahari sepanjang tahun ini.

Hal ini disebabkan orbit Bumi yang elips, di mana posisi terjauh Bumi dari matahari (aphelion) terjadi pada 3 Juli.

Bulan purnama yang terjadi seminggu kemudian akan berada di sisi Bumi yang berseberangan dengan matahari, memperkuat fenomena ini.

Nama “Bulan Buck” berasal dari budaya suku asli Amerika, merujuk pada tanduk baru yang mulai tumbuh pada rusa jantan di bulan Juli.

Selain itu, beberapa suku menyebutnya dengan nama Salmon Moon, Thunder Moon, atau Raspberry Moon.

Dalam tradisi Inggris, bulan ini dikenal sebagai Hay Moon, sementara dalam kalender Celtic disebut Herb Moon, Wyrt Moon, hingga Mead Moon.

Fenomena ini bukan hanya pemandangan menakjubkan, tetapi juga mengingatkan akan kekayaan budaya yang terinspirasi dari langit malam.

Bagi pecinta astronomi, jangan lewatkan momen ini persiapkan waktu terbaik di lokasi Anda untuk menyaksikannya. Bulan purnama berikutnya, Sturgeon Moon, akan muncul pada 9 Agustus mendatang.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#Buck Moon #fenomena #full moon #Utara #langit #fenomena langit #Sagittarius #Astronom #Astronomi #purnama