RADARPAPUA - Sebuah tim arkeolog internasional menemukan jaringan oasis kuno yang dikelilingi tembok di barat laut Arab Saudi. Sebagian struktur ini telah berusia lebih dari 4.000 tahun dan menunjukkan strategi bertahan hidup serta kekuasaan di tengah lingkungan gurun yang sangat keras.
Dari citra satelit dan penggalian, para peneliti mengidentifikasi kota-kota tersembunyi yang dilindungi tembok hingga delapan kilometer panjangnya. Di dalamnya terdapat ladang, sumur air, hingga ternak seperti kambing dan domba, mencerminkan kompleksitas sosial masyarakat masa itu.
Tembok-tembok itu bukan hanya benteng pertahanan, tetapi simbol kekuasaan dan hasil kerja kolektif lintas generasi. Dinding setebal dua meter dengan menara penjaga ini menunjukkan bahwa komunitas kuno ini memiliki struktur organisasi yang kuat dan berkelanjutan.
Empat oasis baru—Dumat al-Jandal, Khaybar, Hait, dan Huwayyit—ditemukan melengkapi jaringan oasis seperti Tayma dan Qurayyah yang sudah lebih dulu diketahui. Secara keseluruhan, jaringan ini mencakup sedikitnya sepuluh oasis dari utara Arab hingga Teluk Persia.
Yang mengejutkan, sistem ini bertahan selama ribuan tahun, dari Zaman Perunggu, Zaman Besi, hingga masa Romawi. Bahkan pada abad ke-19 dan 20, kota-kota seperti Medinah dan al-Ula masih menggunakan tembok serupa untuk melindungi lahan pertanian dari serangan suku pengembara.
Penemuan ini mengubah pandangan lama bahwa Arabia hanya dihuni kaum nomaden. Bukti menunjukkan bahwa sudah ada masyarakat menetap dengan sistem sosial, perdagangan, dan teknologi militer canggih sejak 5.000 tahun lalu.
Meski banyak pertanyaan tersisa—seperti bagaimana mereka mengatur tenaga kerja atau menghadapi kekeringan—penelitian ini menunjukkan bahwa komunitas gurun mampu menciptakan sistem sosial yang adaptif dan tahan lama.(aj)