RADARPAPUA - BRIN sekarang punya fasilitas arkeologi canggih yang memenuhi standar internasional untuk merawat dan meneliti artefak kuno.
Fasilitas ini menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah seperti tembikar, tulang-belulang, alat batu, hingga dokumen kuno.
Menurut Antara News, fasilitas ini juga siap mendukung program repatriasi, yaitu pengembalian artefak budaya Indonesia dari luar negeri.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah sistem karakterisasi arkeometri untuk meneliti kandungan zat dalam artefak.
Arkeometri adalah metode ilmiah untuk mempelajari benda arkeologi, seperti mengungkap pola makan manusia purba dari sisa makanan.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, mengatakan bahwa fasilitas ini bisa dipakai siapa saja, dari peneliti lokal hingga internasional.
Fasilitas ini terletak di kawasan Cibinong dan dikelola oleh Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra).
Selain ruang penyimpanan, BRIN juga membuat sistem digitalisasi artefak agar bisa diteliti tanpa menyentuh benda aslinya.
Langkah ini penting untuk menjaga kondisi benda berharga dari kerusakan akibat sering dipindahkan atau disentuh.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengapresiasi langkah ini karena bisa mendukung pelestarian warisan budaya bangsa.
Ia menegaskan bahwa artefak adalah bagian penting dari sejarah Indonesia yang harus dijaga dan dikenalkan ke generasi muda.
Dengan fasilitas ini, para peneliti kini bisa melakukan riset lanjutan tanpa harus membawa artefak ke luar negeri.
BRIN juga menggandeng banyak universitas dan lembaga budaya untuk berkolaborasi dalam studi dan pelestarian.
Selain itu, mereka juga menyusun sistem informasi terpadu agar data dari artefak bisa diakses secara nasional.
Fasilitas ini mendukung kegiatan laboratorium arkeologi, penyimpanan, konservasi, hingga dokumentasi benda cagar budaya.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia makin siap bersaing dalam penelitian arkeologi di tingkat dunia.
Program ini juga sejalan dengan semangat repatriasi, agar artefak Indonesia yang ada di luar negeri bisa segera dipulangkan.
Beberapa artefak seperti prasasti, patung, dan manuskrip yang dulu dibawa ke Eropa, sekarang bisa dikembalikan dan dirawat di sini.
Langkah ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan Indonesia.
(AR)
Editor : Prisilia Rumengan