RADARPAPUA – Gambar Neanderthal sering dikaitkan dengan sosok berbulu tebal dan alat batu primitif.
Namun, warisan mereka ternyata lebih dalam dari sekadar penampilan. Penelitian terbaru mengungkap bahwa fragmen DNA Neanderthal yang tersisa dalam tubuh manusia modern bisa memengaruhi cara kerja otak, bahkan memiliki kaitan dengan gangguan spektrum autisme.
Riset yang dipimpin oleh para ilmuwan dari Universitas Clemson dan Universitas Loyola mempelajari genom lengkap dari individu autis, saudara kandung mereka, dan orang-orang dari berbagai latar belakang etnis.
Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa varian gen Neanderthal lebih sering ditemukan pada individu autis, meski jumlah total DNA Neanderthal tidak lebih banyak.
Yang menarik, varian gen ini muncul di area otak yang berperan penting dalam pemrosesan visual, ingatan, dan pemahaman sosial.
Melalui pemindaian MRI fungsional, terlihat bahwa otak individu yang membawa lebih banyak varian ini baik yang autis maupun tidak menunjukkan aktivitas visual yang lebih kuat, namun jalur komunikasi sosial justru lebih tenang.
Pola ini mencerminkan kecenderungan umum pada autisme: kemampuan mengenali pola dan fokus tinggi disertai kelelahan sosial.
Para peneliti menduga bahwa kemampuan ini dulunya sangat berguna dalam kehidupan Neanderthal.
Dalam kelompok kecil dan terpencil, kemampuan observasi tajam untuk berburu atau mengolah batu kemungkinan lebih penting dibandingkan interaksi sosial kompleks.
Dengan demikian, ketika manusia modern dan Neanderthal kawin silang, sifat ini bisa bertahan karena memiliki nilai adaptif.
Meskipun demikian, para ilmuwan menekankan bahwa genetika hanyalah salah satu bagian dari teka-teki autisme.
Lingkungan, perkembangan otak, dan interaksi gen lain juga berperan besar. Namun, penemuan ini membantu menjelaskan mengapa autisme muncul di berbagai budaya di seluruh dunia, dan bagaimana hal itu bisa menjadi bagian alami dari keanekaragaman kognitif manusia.
Lebih dari sekadar kondisi medis, studi ini mengajak kita melihat neurodiversitas sebagai hasil dari sejarah evolusi, bukan anomali.
Bakat analitis, logika tinggi, dan ketelitian visual yang ditemukan dalam banyak individu autis bisa jadi adalah warisan dari leluhur kuno kita.
Para peneliti berharap temuan ini membuka jalan bagi studi lanjutan, termasuk kondisi neurokognitif lainnya dan kemungkinan pemanfaatan data genetik untuk pendekatan klinis yang lebih personal.
Studi lengkap telah dipublikasikan dalam Molecular Psychiatry dan menjadi salah satu langkah penting dalam memahami hubungan kompleks antara genetika dan cara berpikir manusia modern.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan