Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Bukan Sekadar Gila: Studi Baru Ungkap Pengetahuan Medis Caligula sang Kaisar Romawi

Richard Lawongan • Kamis, 10 Juli 2025 | 11:45 WIB

Kaligula. Kopenhagen, Carlsberg Glyptotek Baru.
Kaligula. Kopenhagen, Carlsberg Glyptotek Baru.

RADARPAPUA - Caligula, kaisar Romawi yang sering dikenang karena kekejaman dan perilaku tak terduga, ternyata juga memiliki sisi ilmiah yang tak banyak diketahui. Studi terbaru dari Yale Ancient Pharmacology Program (YAPP) mengungkap bahwa Caligula kemungkinan memahami farmakologi kuno dan penggunaan tanaman obat seperti hellebore, sebuah tanaman berkhasiat yang populer di dunia medis Romawi.

Penelitian ini berangkat dari sebuah anekdot dalam karya sejarawan Suetonius dalam The Twelve Caesars, yang menceritakan Caligula menanggapi permintaan perpanjangan cuti seorang senator sakit yang berobat ke Antikyra—kota spa di Yunani kuno yang terkenal karena pengobatan berbasis hellebore—dengan eksekusi, sambil menyindir bahwa "pengeluaran darah diperlukan jika hellebore tak juga menyembuhkan."

Namun, tim peneliti Yale menafsirkan ulang peristiwa ini, menunjukkan bahwa Caligula kemungkinan memiliki pengetahuan medis dan memahami penggunaan hellebore yang pada masa itu dipercaya bisa menyembuhkan epilepsi, kegilaan, dan insomnia—penyakit yang juga dikaitkan dengan Caligula sendiri.

"Kami menemukan bahwa Antikyra berfungsi layaknya Mayo Clinic di dunia Romawi—tujuan wisata medis bagi kalangan elite," jelas Andrew Koh, peneliti utama YAPP.

Mereka menyimpulkan bahwa hellebore dari Antikyra tidak hanya populer karena kandungan kimianya, tetapi juga karena teknik pengolahannya yang unik. Beberapa ramuan bahkan dicampur dengan tanaman sesamoides, yang dipercaya dapat mengurangi toksisitas hellebore.

Studi ini juga menyoroti tumpang tindih antara pengetahuan ilmiah dan kekuasaan. Caligula, yang diyakini terobsesi dengan racun karena kematian ayahnya, Germanicus, tampaknya mempelajari farmakologi tidak hanya karena ketertarikan pribadi, tetapi juga sebagai strategi bertahan hidup.

Fakta bahwa Caligula mungkin membaca De Medicina karya Celsus—sebuah panduan medis dari masa pemerintahan Tiberius yang menyarankan pengeluaran darah sebagai alternatif hellebore—memberikan konteks atas leluconnya tentang "pengeluaran darah" bagi senator itu.

Studi ini telah diterbitkan dalam Proceedings of the European Academy of Sciences and Arts dan menjadi contoh bagaimana pendekatan interdisipliner—menggabungkan ilmu botani, teks kuno, dan sejarah—dapat membuka pandangan baru terhadap tokoh sejarah yang selama ini hanya dikenal lewat sisi gelapnya.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#medis #romawi #Caligula #farmakologi #arkeologi