Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Penelitian Baru: Sphinx Giza Mungkin Dibentuk dari Batu Alami yang Tererosi Lalu Dipahat Mesir Kuno

Richard Lawongan • Senin, 14 Juli 2025 | 18:22 WIB
Pemandangan dari atas bagaimana erosi dapat membuat gundukan berbentuk setengah oval menjadi patung yang menyerupai sphinx.
Pemandangan dari atas bagaimana erosi dapat membuat gundukan berbentuk setengah oval menjadi patung yang menyerupai sphinx.

RADARPAPUA - Para ilmuwan punya teori baru tentang bagaimana Patung Sphinx di Mesir dibuat. Patung ini sudah berusia sekitar 4.500 tahun dan berdiri megah di depan Piramida Khafre di Giza. Biasanya orang berpikir patung ini dipahat dari batu besar sejak awal. Tapi studi baru menunjukkan, mungkin saja orang Mesir kuno memanfaatkan batu alami yang bentuknya sudah mirip Sphinx.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 17 Oktober di jurnal Physical Review Fluids, tim dari Universitas New York membuat percobaan. Mereka menggunakan tanah liat lunak yang di dalamnya ada bahan lebih keras, lalu dialiri air deras untuk meniru erosi angin selama ribuan tahun. Hasilnya, tanah liat itu tererosi menjadi bentuk yang mirip singa dengan kepala terangkat, mirip Sphinx.

Peneliti utama, Profesor Leif Ristroph, mengatakan proses alam ini bisa saja membentuk batu yang mirip Sphinx di Giza. Namun ia juga mengingatkan, meski mungkin ada batu alami seperti itu, kita tidak tahu pasti apakah benar pernah ada di sana.

Kalau memang ada batu yang sudah mirip Sphinx, orang Mesir kuno tetap harus bekerja keras. Mereka perlu memahat bagian wajah dan detail lain agar jadi patung megah seperti sekarang.

Ahli lain juga mengomentari penelitian ini. Profesor Kathryn Bard dari Boston University bilang, meski menarik, ia belum pernah melihat formasi batu alami di Mesir yang benar-benar mirip Sphinx. Bahkan kalau ada, orang Mesir kuno pasti tetap harus menambahkan batu kapur supaya jadi lengkap, termasuk kaki depan dan cakarnya. 

Selain itu, penelitian lama tahun 1930-an oleh arkeolog Émile Baraize menemukan Sphinx kemungkinan dibangun di atas dua batu alami (disebut yardang) yang posisinya berdekatan. Jadi, kepala dan dada Sphinx berdiri di atas satu yardang, sementara bagian belakang di yardang lain. Tapi pekerjaan memahatnya tetap sangat besar.

Singkatnya, ada kemungkinan Patung Sphinx dulu terbentuk dari batu alami yang tererosi angin, lalu disempurnakan oleh tangan manusia menjadi patung luar biasa yang kita lihat hari ini. (*)

Editor : Richard Lawongan
#batu #giza #penelitian baru #sphinx #Mesir kuno