RADARPAPUA - Sebuah guci kuno berusia lebih dari seribu tahun dari peradaban Zapotec di Meksiko menjadi saksi bisu dari awal kemajuan arkeologi Amerika Latin.
Guci pemakaman yang indah ini ditemukan pada tahun 1898 oleh seorang arkeolog visioner bernama Marshall Saville, saat ia menjalankan salah satu proyek arkeologi paling awal di wilayah Oaxaca.
Penemuan luar biasa ini terjadi di Xoxocotlán, sebuah desa yang dulunya dihuni oleh suku Zapotec dan kini dikenal sebagai salah satu pusat warisan budaya di Lembah Oaxaca.
Situs ini awalnya tampak tak menjanjikan reruntuhan tak terlihat karena telah tertutup oleh tanah dan rerumputan selama berabad-abad.
Namun, keberuntungan berpihak pada Saville ketika penduduk setempat secara tak sengaja menemukan dinding batu saat mencoba membasmi sarang semut yang merusak tanaman mereka.
Marshall Saville, kurator pertama untuk bidang arkeologi Meksiko di Museum Sejarah Alam Amerika, langsung menyadari bahwa dinding batu yang ditemukan bukan struktur biasa.
Ia memahami bahwa platform batu tersebut merupakan dasar dari bangunan penting pada masa Zapotec. Dalam tradisi suku tersebut, tokoh-tokoh penting biasanya dikuburkan di bawah struktur utama seperti kuil atau istana.
Saat menggali lebih dalam, Saville menemukan sebuah ruang pemakaman dan di dalamnya terdapat lima guci besar yang didekorasi indah.
Salah satu guci, yang kini menjadi objek pameran ternama, tampak duduk seolah-olah telah menunggu selama lebih dari seribu tahun untuk ditemukan kembali.
Empat dari guci tersebut mengenakan topeng Cociyo—dewa petir dalam mitologi Zapotec—dan jubah yang serupa.
Namun, satu guci tampak berbeda: tidak mengenakan topeng dan memakai jubah dengan desain yang unik.
Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan menarik yang hingga kini masih diteliti oleh para arkeolog.
Penemuan guci-guci ini tidak hanya menandai tonggak penting dalam sejarah arkeologi Meksiko, tetapi juga memperkaya pemahaman dunia tentang budaya Zapotec yang telah lama hilang.
Guci-guci tersebut kini menjadi ikon dari warisan budaya Oaxaca dan simbol dedikasi awal dunia ilmiah untuk menggali masa lalu.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan