Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ilmuwan Temukan Lanskap Kuno di Bawah Es Antarktika yang Terjaga Selama 30 Juta Tahun

Prisilia Rumengan • Sabtu, 19 Juli 2025 | 15:40 WIB

Sungai-sungai tersebut kemungkinan terbentuk ketika superbenua Gondwana terpecah, memisahkan Antarktika dari Australia. (credit: Guy Paxman)
Sungai-sungai tersebut kemungkinan terbentuk ketika superbenua Gondwana terpecah, memisahkan Antarktika dari Australia. (credit: Guy Paxman)

RADARPAPUA - Para ilmuwan berhasil mengungkap lanskap tersembunyi yang telah tertutup Lapisan Es Antarktika Timur selama lebih dari 30 juta tahun.

Lanskap ini terbentuk jauh sebelum lapisan es masif muncul, kemungkinan besar antara 80 juta hingga 34 juta tahun lalu, ketika sungai-sungai purba mengikis dan meratakan permukaan bumi.

Temuan mengejutkan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience pada 11 Juli. Dalam studi tersebut, tim ilmuwan dari Inggris menggunakan data radar dari empat survei terpisah untuk memetakan bentuk batuan dasar di bawah lapisan es Antarktika.

Hasilnya adalah penemuan permukaan datar luas yang luar biasa, lengkap dengan lembah-lembah dalam yang membentang sepanjang 3.500 kilometer di pantai timur benua es itu.

“Kami telah lama bingung dengan bukti-bukti yang terputus tentang permukaan datar di bawah es,” kata Neil Ross, seorang geofisikawan dari Universitas Newcastle.

“Namun kali ini, kami berhasil menyatukan potongan-potongan data menjadi gambaran utuh yang bisa membantu kita pahami bagaimana lanskap kuno ini terbentuk dan memengaruhi aliran es masa kini.”

Guy Paxman, ahli geofisika kutub dari Universitas Durham, menjelaskan lebih lanjut bahwa permukaan ini tampaknya terawetkan dengan sangat baik.

“Permukaan datar itu muncul hampir di setiap wilayah yang kami analisis,” katanya. “Yang mengejutkan, bentang alam tersebut relatif tidak berubah selama 30 juta tahun. Artinya, sebagian lapisan es justru melindungi lanskap itu, bukan mengikisnya.”

Berdasarkan data yang diperoleh, para peneliti menduga bahwa bagian atas lanskap purba ini menjadi tempat aliran es yang sangat lambat, sementara es bergerak lebih cepat di lembah-lembah di sekitarnya. Lembah ini diyakini terbentuk karena aliran air lelehan dari lapisan es purba.

“Bentuk topografi seperti ini bisa menjadi penentu besar dalam seberapa cepat es mencair dari Antarktika Timur,” ujar Paxman.

Ia juga menekankan bahwa informasi geologi terbaru ini sangat penting untuk menyempurnakan model prediksi pencairan es dan kenaikan permukaan laut global di masa depan.

Studi ini menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana benua es terbesar di dunia bisa berkontribusi pada naiknya air laut jika suhu bumi terus meningkat.

Dengan teknologi radar dan riset geologi mendalam, para ilmuwan kini bisa lebih baik merancang solusi menghadapi tantangan iklim yang semakin nyata.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#Es Antartika #penemuan #Ilmuwan #lanskap kuno yang hilang