Terungkap! Jalur Migrasi Manusia Purba Tersembunyi di Bawah Laut
Prisilia Rumengan• Kamis, 24 Juli 2025 | 14:52 WIB
Peta referensi yang menunjukkan kenampakan alam yang dikutip, kota, dan rute yang diketahui menghubungkan Sungai Nil, Teluk Foul, Teluk Suez, Laut Merah, dan Laut Mediterania sepanjang sejarah.
RADARPAPUA - Selama bertahun-tahun, Jerome Dobson, peneliti emeritus dari University of Kansas, meneliti wilayah yang dulu pernah dihuni manusia purba, namun kini tenggelam di bawah laut akibat naiknya permukaan air. Ia menyebut kawasan ini sebagai “aquaterra”—daratan yang dulu terbuka, kini tersembunyi di dasar lautan.
Dalam riset terbarunya bersama peneliti Italia, Dobson menggunakan model terkini glacial isostatic adjustment (GIA) untuk memetakan ulang garis pantai dan jalur migrasi manusia purba dari Afrika. Hasilnya mengungkap bahwa banyak rute yang dulu bisa dilalui manusia kini berada di bawah laut, dan belum banyak diteliti secara arkeologis.
Rute-rute ini termasuk penyeberangan Suez, jalur Bab el-Mandeb ke Arab Saudi, dan kawasan Foul Bay di Laut Merah menuju Lembah Nil. Berdasarkan data DNA dan arkeologi, tim menemukan bahwa beberapa jalur ini lebih sering terbuka selama Zaman Es daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Pusat penyebaran manusia purba ternyata berada di timur laut Sudan, dekat Meroe, wilayah kuno di Kush. Dari titik ini, manusia menyebar ke Levant, Asia Barat, dan kawasan lainnya. Temuan ini menguatkan bahwa wilayah Laut Merah, terutama Foul Bay, mungkin menjadi jalur migrasi penting selain Semenanjung Sinai.
Menariknya, walau Bab el-Mandeb terlihat sempit secara geografis, kondisi laut dan keterbatasan perahu saat itu bisa menjadikannya penghalang. Di sisi lain, Foul Bay menjadi pilihan lebih aman karena memiliki rute lebih pendek ke Sungai Nil dan terhindar dari terumbu karang berbahaya.
Tim peneliti juga menyoroti pelabuhan kuno Berenice di tepi Laut Merah sebagai titik kunci perlintasan atau migrasi. Mereka menduga terumbu karang di sekitar Foul Bay bisa menyimpan bukti konstruksi manusia purba, karena karang hanya tumbuh di dasar yang kokoh.
Riset ini membuka peluang besar untuk studi lanjutan. Dengan data GIA yang bersifat open access, para peneliti dari berbagai disiplin—arkeologi, geografi, sejarah iklim, dan konservasi spesies—dapat menjelajahi kembali dunia purba yang kini tersembunyi di dasar laut.(aj)