Kembali dari Bayang-Bayang: Penemuan Ular Terkecil Dunia di Barbados
Prisilia Rumengan• Senin, 28 Juli 2025 | 12:06 WIB
Ular benang Barbados (Tetracheilostoma carlae) ditemukan bersembunyi di bawah batu di Barbados tengah.
RADARPAPUA - Di bawah akar pohon tua yang nyaris tak tersentuh manusia, tersembunyi makhluk kecil yang selama ini hanya ada dalam catatan usang para ilmuwan. Tidak lebih panjang dari jari tangan, tubuhnya mungil, berwarna coklat kemerahan dengan garis jingga samar di punggungnya. Ia tak punya penglihatan, hanya naluri yang membimbingnya dalam gelap.
Itulah Barbados threadsnake—ular terkecil di dunia, dan salah satu yang paling misterius. Begitu kecil, ia bisa nyaris muat di atas sebuah koin. Dan selama bertahun-tahun, para peneliti mengira ia telah menghilang dari muka bumi.
Namun, di bulan Maret lalu, keajaiban kecil itu terjadi.
Connor Blades dari Kementerian Lingkungan Hidup Barbados dan Justin Springer dari organisasi konservasi Re:wild, tengah melakukan survei ekologi di tengah hutan tersisa di pulau itu. Mereka telah mencari lebih dari setahun, membalik batu demi batu, berharap menemukan jejak yang selama ini sulit dipercaya.
Dan akhirnya, di bawah batu yang terjebak di antara akar pohon, mereka melihatnya—ular kecil seperti benang yang sempat dianggap hilang sejak 1889. Di sampingnya, seekor cacing tanah. Sekilas, keduanya hampir tak bisa dibedakan.
“Ketika kau terbiasa mencari sesuatu yang tak pernah terlihat, rasanya seperti mimpi saat akhirnya kau menemukannya,” kata Springer. “Kau bahkan takut untuk berharap terlalu banyak.”
Karena kemiripannya dengan Brahminy blind snake—spesies asing yang sudah menyebar ke banyak tempat—ular ini harus diperiksa dengan hati-hati di bawah mikroskop di Universitas Hindia Barat sebelum dikonfirmasi bahwa benar, mereka telah menemukan Tetracheilostoma carlae. Seekor asli Barbados. Seekor yang hampir terlupakan.
Tak hanya langka, ular ini juga sangat rentan. Habitat aslinya—hutan primer di Barbados—tinggal 2% saja, setelah ratusan tahun ditebang untuk pertanian sejak masa kolonial. Dan berbeda dengan ular invasif yang bisa bertelur tanpa kawin, betina threadsnake hanya bertelur satu butir dalam sekali musim. Satu nyawa kecil, satu harapan.
Penemuan ini bukan sekadar kabar baik bagi dunia herpetologi. Ia adalah peringatan. Sebuah seruan bagi masyarakat Barbados—dan dunia—bahwa masih ada keajaiban kecil di balik rimbun hutan, dan kita bisa kehilangannya bila tidak berhati-hati.
“Penemuan ulang ini adalah pengingat,” ujar Springer, “bahwa hutan-hutan kita masih menyimpan keajaiban, dan kita harus melindunginya—bukan hanya untuk ular ini, tapi untuk seluruh kehidupan di dalamnya. Untuk tanaman, hewan, dan warisan kita sebagai manusia.”(aj)