Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Ketika Dinosaurus Tidak Mengaum, Tapi Bernyanyi

Prisilia Rumengan • Senin, 28 Juli 2025 | 12:17 WIB

Foto seluruh kerangka Pulaosaurus qinglongin.
Foto seluruh kerangka Pulaosaurus qinglongin.

RADARPAPUA - Dalam bayangan banyak orang, dinosaurus adalah makhluk besar, mengaum dengan suara menakutkan yang menggetarkan tanah—gambaran yang diperkuat oleh film-film seperti Jurassic Park. Tapi sains, seperti biasa, tidak tunduk pada naskah Hollywood.

Dari tanah purba di Hebei, Tiongkok utara, muncul cerita baru. Di sebuah formasi batuan berusia 160 juta tahun, para peneliti menemukan kerangka kecil sepanjang dua kaki. Ia diberi nama Pulaosaurus qinglong—mengambil dari legenda naga Pulao, yang konon memiliki suara menggelegar. Ironis, karena justru penemuan ini menunjukkan bahwa suara dinosaurus bisa jadi... nyaring dan merdu seperti kicauan burung.

Pulaosaurus adalah anggota awal dari kelompok Neornithischia, dinosaurus pemakan tumbuhan dengan struktur pinggul menyerupai burung. Fosil ini luar biasa lengkap—dari tulang belakang, panggul, hingga lengan, kaki, dan bagian yang sangat langka: kotak suara atau laring. Bahkan ada sisa jaringan lunak yang masih bisa dikenali, sesuatu yang hampir mustahil ditemukan setelah jutaan tahun.

Bagi para ilmuwan, tulang laring ini adalah harta karun. Sebelumnya, hanya satu spesies dinosaurus lain yang pernah ditemukan dengan bagian suara yang membatu. Tapi Pulaosaurus mengubah permainan. Tulang rawan memanjang di tenggorokannya sangat mirip dengan struktur pada burung modern—sebuah petunjuk kuat bahwa makhluk ini mungkin tak mengaum, melainkan berkicau. Bukan raungan, tapi suara seperti siulan atau nyanyian bisa jadi lebih akurat untuk menggambarkan masa hidupnya.

Apa yang dulu kita anggap sebagai makhluk buas dengan kulit tebal dan raungan garang, kini tampak lebih akrab. Lebih... lembut. Mungkin bahkan lucu. Seekor dinosaurus mungil di antara pepohonan, berkicau kepada kawannya, sambil memakan tanaman lunak. Karena ya, hasil analisis pada rongga perut Pulaosaurus menunjukkan adanya batu kecil—gastrolith—yang digunakan untuk mencerna tumbuhan, serta kemungkinan biji-bijian di dalamnya.

Penemuan ini tidak hanya menjungkirbalikkan stereotip suara dinosaurus. Ia juga mengisi celah penting dalam pohon keluarga dinosaurus pemakan tumbuhan yang sebelumnya jarang ditemukan di wilayah Yanliao Biota, salah satu situs fosil terkaya di dunia. Sebagian besar temuan dari sana selama ini berasal dari theropoda pemangsa dan burung awal. Pulaosaurus hadir sebagai suara baru—secara harfiah dan metaforis.

Bagi dunia paleontologi, ini adalah pengingat bahwa masa lalu tidak diam. Ia bersuara. Dan kadang, suara itu bukan gemuruh, tetapi bisikan—atau kicauan kecil dari makhluk mungil yang hidup jutaan tahun lalu, kini terungkap lewat tulang dan batu.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#fosil #dinosaurus #Berkicau #SUARA