RADARPAPUA – Sebuah misteri sejarah Perang Dunia II akhirnya terkuak di Laut Pasifik. Kapal perusak milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Teruzuki, yang tenggelam pada 12 Desember 1942, berhasil ditemukan dan diidentifikasi oleh tim arkeolog bawah air dari Ocean Exploration Trust.
Penemuan ini terjadi 83 tahun setelah kapal tersebut lenyap tanpa jejak di wilayah yang dikenal sebagai Iron Bottom Sound, antara pulau Guadalcanal, Savo, dan Nggela, di Kepulauan Solomon.
Iron Bottom Sound adalah lokasi pertempuran laut sengit pada 1942 yang menyebabkan tenggelamnya lebih dari 100 kapal dan hilangnya lebih dari 20.000 nyawa.
Dalam proyek eksplorasi yang melibatkan berbagai lembaga seperti Ocean Exploration Trust, Naval History and Heritage Command (NHHC), NOAA Ocean Exploration, University of New Hampshire, hingga Universitas Kyoto, bangkai Teruzuki ditemukan di kedalaman lebih dari 2.600 kaki menggunakan kapal tanpa awak bernama DriX.
Awalnya, benda besar yang terdeteksi sonar tidak dikenali. “Kami tidak tahu apa itu,” ujar Larry Mayer, direktur Center for Coastal and Ocean Mapping dari University of New Hampshire.
Ketika tim mengirim dua wahana bawah laut, Hercules dan Atalanta, mereka mendapatkan visual jelas dari kapal tersebut. Bagian buritan terlihat terlepas namun masih dalam kondisi utuh.
Menara meriamnya bahkan tetap tegak mengarah ke atas, menunjukkan posisi tempur terakhir kapal tersebut.
Kazushige Todaka, Direktur Museum Maritim Kure di Hiroshima, mengonfirmasi identitas kapal melalui citra visual.
“Melihat bentuk dan meriamnya, tidak diragukan lagi ini adalah Teruzuki,” katanya kepada Japan News.
Ia juga menegaskan bahwa Teruzuki adalah kapal perusak langka, dirancang khusus untuk menghadapi serangan udara.
Karena dokumentasi militer Jepang saat itu sangat terbatas, gambar historis kapal tidak tersedia.
Namun informasi sejarah mencatat bahwa Teruzuki, yang berarti "Bulan Bersinar", adalah kapal perusak kelas Akizuki yang digunakan sebagai kapal komando Laksamana Muda Raizō Tanaka dalam kampanye Guadalcanal.
Kapal itu tenggelam setelah dihantam dua torpedo Amerika, menewaskan sembilan awak.
Arkeolog maritim dari Universitas Kyoto, Hiroshi Ishii, yang turut serta dalam ekspedisi, mengatakan bahwa mereka sempat menduga bangkai kapal itu milik Amerika atau Australia.
Namun analisis menyeluruh akhirnya menegaskan identitas aslinya.
“Melihat langsung kapal ini adalah pengalaman yang luar biasa. Ini pengingat bahwa kita harus mencatat dan melestarikan sejarah maritim sebelum benar-benar hilang,” kata Ishii.
Penemuan Teruzuki bukan satu-satunya temuan bersejarah. Awal bulan ini, tim yang sama juga mengidentifikasi haluan kapal perang Amerika USS New Orleans yang hilang akibat serangan torpedo Jepang pada November 1942.
Hebatnya, kapal itu berhasil kembali ke Australia dengan bagian haluan darurat yang dibuat dari batang pohon kelapa.
Penemuan-penemuan ini memberi kontribusi besar dalam pelestarian sejarah dan pemahaman publik terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah maritim dunia.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan