Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Coelacanth Ubah Buku Teks Evolusi: Penelitian Baru Bongkar Salah Kaprah 70 Tahun

Prisilia Rumengan • Rabu, 30 Juli 2025 | 13:26 WIB

Salah satu penulis studi tersebut, Aléssio Datovo, berpose di samping spesimen coelacanth yang dipamerkan di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution.
Salah satu penulis studi tersebut, Aléssio Datovo, berpose di samping spesimen coelacanth yang dipamerkan di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution.

RADARPAPUA - Coelacanth, ikan purba yang dijuluki “fosil hidup”, kembali mengguncang dunia sains. Studi terbaru dari Universitas São Paulo (USP) dan Smithsonian Institution mengungkap bahwa banyak pemahaman tentang otot tengkorak ikan ini selama 70 tahun terakhir ternyata keliru. Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science Advances.

Setelah meneliti ulang otot-otot kepala Latimeria chalumnae (coelacanth Afrika), para peneliti menemukan bahwa hanya 13% dari inovasi otot yang sebelumnya diidentifikasi secara evolusioner benar adanya. Sebaliknya, 11 dari struktur yang diduga otot ternyata hanyalah ligamen—jaringan penghubung yang tidak dapat berkontraksi seperti otot.

“Selama ini kita kira coelacanth memiliki kemampuan isapan seperti ikan sirip-jari (ray-finned fish), padahal tidak. Ini mengubah asumsi tentang bagaimana mekanisme makan dan bernapas berevolusi pada vertebrata,” jelas Prof. Aléssio Datovo dari Museum Zoologi USP, pemimpin studi ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengisap makanan melalui rongga mulut (seperti pada ikan akuarium) baru muncul sekitar 30 juta tahun setelah percabangan utama antara ikan bersirip-jari dan ikan bersirip-cuping (seperti coelacanth dan lungfish).

Coelacanth sendiri merupakan spesies langka yang hidup di kedalaman 300 meter dan pertama kali ditemukan hidup pada 1938 setelah sebelumnya hanya diketahui dari fosil 400 juta tahun lalu. Dengan sedikit predator dan lingkungan yang stabil, evolusinya berlangsung sangat lambat.

Demi menghindari kerusakan spesimen, Datovo dan mendiang rekannya, G. David Johnson—dikenal sebagai ahli anatomi ikan terbaik di masanya—membedah spesimen secara hati-hati selama enam bulan. Hasil pembedaian kini disimpan agar bisa diteliti lebih lanjut oleh ilmuwan lain.

Dengan data 3D dari tengkorak ikan lain, termasuk yang sudah punah, tim peneliti berhasil merekonstruksi evolusi otot-otot penting pada vertebrata awal. Temuan ini membuka jalan baru untuk memahami bagaimana otot kepala berevolusi pada kelompok seperti amfibi, reptil, hingga mamalia.

“Coelacanth ternyata lebih dekat ke hiu dan tetrapoda daripada yang kita kira, dan lebih jauh dari ikan bersirip-jari yang mendominasi dunia sekarang,” kata Datovo. “Temuan ini menantang asumsi lama tentang leluhur semua vertebrata bertulang.”(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#coelacanth #fosil #ikan #purba #Evolusi