Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Plak Gigi Kuno Ungkap Tradisi Mengunyah Pinang 4.000 Tahun Lalu di Thailand

Richard Lawongan • Kamis, 31 Juli 2025 | 13:16 WIB

Bahan baku sirih modern: Daun sirih, pinang (Areca catechu L.), pasta batu kapur, tembakau (Nicotiana tabacum L.), dan filamen kulit kayu Senegalia catechu.
Bahan baku sirih modern: Daun sirih, pinang (Areca catechu L.), pasta batu kapur, tembakau (Nicotiana tabacum L.), dan filamen kulit kayu Senegalia catechu.

RADARPAPUA - Mengunyah pinang sudah dikenal luas di Asia Tenggara sebagai tradisi sosial dan budaya yang telah berlangsung ribuan tahun. Tapi kini, sebuah studi baru menunjukkan bahwa praktik ini telah ada sejak setidaknya 4.000 tahun lalu, berdasarkan jejak kimia yang tersimpan dalam plak gigi manusia kuno.

Penelitian yang dipublikasikan di Frontiers in Environmental Archaeology ini menemukan senyawa aktif dari buah pinang dalam plak gigi dari situs arkeologi Nong Ratchawat, Thailand tengah. Situs ini merupakan kompleks pemakaman Zaman Perunggu yang telah menghasilkan lebih dari 150 temuan kerangka sejak 2003.

“Kami berhasil mengidentifikasi senyawa dari tanaman pinang dalam plak gigi dari salah satu individu,” jelas Dr. Piyawit Moonkham dari Universitas Chiang Mai. “Ini adalah bukti biomolekuler langsung paling awal dari praktik mengunyah pinang di Asia Tenggara.”

Dengan bantuan teknologi modern, tim menggunakan analisis kimia terhadap kalkulus gigi (plak yang telah mengeras) untuk menemukan senyawa arekolin dan arekaidin—komponen aktif dalam buah pinang yang memicu rasa euforia, relaksasi, dan energi.

Menariknya, gigi dari individu tersebut tidak menunjukkan pewarnaan khas merah kehitaman yang umumnya muncul akibat kebiasaan mengunyah pinang. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketiadaan noda bukan berarti tidak ada konsumsi—bisa jadi karena metode konsumsi yang berbeda, kebiasaan menyikat gigi, atau faktor lingkungan setelah kematian.

Untuk memastikan hasil, tim juga membuat sampel quid pinang secara eksperimental menggunakan bahan tradisional: buah pinang kering, daun sirih, kapur merah muda, dan kadang kayu akasia atau tembakau, lalu dikunyah dengan air liur manusia untuk meniru kondisi asli.

“Proses ‘mengunyah’ ini sangat menarik karena membawa kami lebih dekat dengan pengalaman orang-orang masa lalu,” ujar Moonkham.

Hanya satu dari enam individu yang menunjukkan jejak pinang, tapi ini tetap merupakan lompatan besar dalam metode arkeologi. Seperti kata Dr. Shannon Tushingham, penulis senior dari California Academy of Sciences, “Kami menunjukkan bahwa kalkulus gigi bisa menyimpan jejak kimia dari tanaman psikoaktif bahkan ribuan tahun setelah dikonsumsi.”

Lebih dari sekadar identifikasi zat, penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman budaya dalam penggunaan tanaman tradisional. Mengunyah pinang bukan sekadar kebiasaan, tapi mencerminkan identitas budaya, spiritualitas, dan warisan komunitas.(aj)

 
Editor : Richard Lawongan
#plak gigi #kuno #arkeologi #zaman perunggu #pinang