RADARPAPUA - Sebuah tulang kaki kuno dari Zambia yang selama lebih dari 50 tahun tak diperhatikan di museum, kini membawa lompatan penting dalam memahami awal mula evolusi dinosaurus. Fosil itu ternyata milik kelompok reptil misterius bernama silesaur, yang hidup sekitar 225 juta tahun lalu di periode Trias.
Studi terbaru yang dipublikasikan di Royal Society Open Science mengungkap bahwa silesaur mungkin bukan hanya “kerabat dekat” dinosaurus, melainkan bagian dari pohon keluarga dinosaurus itu sendiri. Penemuan ini memperkuat gagasan bahwa dinosaurus pertama bisa jadi lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
"Fosil-fosil kecil yang selama ini dianggap mewakili ukuran asli mereka bisa saja menyesatkan," ujar Jack Lovegrove, peneliti utama dari University of Birmingham. "Tulang femur ini menunjukkan bahwa silesaur—dan mungkin dinosaurus awal—jauh lebih besar daripada yang kita pikir."
Silesaur adalah kelompok reptil mirip dinosaurus yang hidup 240–200 juta tahun lalu. Baru dikenali sebagai kelompok tersendiri pada 2010, silesaur seperti Silesaurus panjangnya bisa mencapai 2 meter dan memiliki paruh seperti bebek, kemungkinan untuk makan tumbuhan atau serangga.
Meski awalnya dianggap hanya saudara dekat dinosaurus, penelitian terbaru menunjukkan bahwa silesaur mungkin adalah bagian awal dari garis keturunan dinosaurus sejati. Ciri seperti ujung rahang bawah yang tanpa gigi mengaitkan mereka dengan kelompok dinosaurus berparuh seperti Triceratops dan Stegosaurus.
Fosil ini pertama kali ditemukan pada 1963 oleh ekspedisi Inggris ke Zambia dan Tanzania. Namun karena fokus saat itu adalah pada reptil mirip mamalia seperti dicynodonts, fosil silesaur ini tidak dikaji lebih lanjut.
Baru pada 2010-an, peneliti lain menemukan tulang ini di koleksi Natural History Museum London dan menyadari signifikansinya. Hasilnya? Bukti bahwa silesaur-silesaur besar pernah hidup berdampingan dengan spesies lain dan mungkin mendominasi ekosistemnya.
Sebelumnya, silesaur dianggap kecil dan tidak dominan. Namun ukuran tulang yang diteliti dan fosil lainnya dari Zambia menunjukkan bahwa silesaur bisa jadi adalah herbivora terbesar di lingkungannya, bahkan melampaui dicynodonts dalam tinggi dan panjang meskipun lebih ringan.
“Ini menunjukkan mereka mungkin punya dampak ekologi jauh lebih besar dari yang diduga sebelumnya,” kata Lovegrove.
Penemuan ini menantang asumsi lama bahwa dinosaurus berevolusi dari bentuk kecil. Jika silesaur besar merupakan nenek moyang mereka, maka evolusi awal dinosaurus mungkin melibatkan penyusutan ukuran, bukan pembesaran.
Lebih banyak fosil silesaur—baik dari lapangan maupun museum—diperlukan untuk menjawab teka-teki besar tentang asal-usul dinosaurus, termasuk apakah mereka benar-benar berasal dari kelompok ini atau hanya bertetangga dekat secara evolusioner. (aj)
Editor : Richard Lawongan