Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Scrumping: Kebiasaan Kera Makan Buah Busuk yang Bisa Menjelaskan Evolusi Alkohol Manusia

Richard Lawongan • Jumat, 1 Agustus 2025 | 14:54 WIB

Sebuah makalah baru menciptakan kata "scrumping" untuk menggambarkan kesukaan kera Afrika dalam memakan buah dari lantai hutan.
Sebuah makalah baru menciptakan kata "scrumping" untuk menggambarkan kesukaan kera Afrika dalam memakan buah dari lantai hutan.

RADARPAPUA - Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa manusia bisa menikmati minuman beralkohol? Studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan ini mungkin berakar jauh di masa lalu, ketika nenek moyang manusia masih hidup di hutan. Para ilmuwan kini memberi nama "scrumping" pada kebiasaan kera besar seperti simpanse dan gorila yang memakan buah matang atau busuk yang jatuh ke tanah dan mulai difermentasi secara alami.

Kebiasaan ini tampaknya bukan hal sepele. Buah yang sudah jatuh ke tanah cenderung mengandung etanol karena proses fermentasi alami. Ketika dikonsumsi secara rutin, seperti yang dilakukan simpanse yang makan hingga 10 pon buah per hari, maka mereka secara tidak langsung mengonsumsi alkohol. Ini diduga menjadi tekanan seleksi evolusioner yang membuat nenek moyang manusia mampu memetabolisme alkohol lebih efisien.

Penelitian sebelumnya pada 2015 menunjukkan bahwa kemampuan metabolisme alkohol manusia berasal dari satu perubahan kecil pada enzim di leluhur bersama manusia dan kera Afrika. Namun, karena selama ini tak ada istilah khusus untuk perilaku makan buah fermentasi ini, para ilmuwan sulit menyadari pentingnya kebiasaan tersebut dalam kerangka evolusi.

Dengan hadirnya istilah scrumping, peneliti kini bisa membedakan perilaku makan buah dari pohon dan dari tanah. Nama ini berasal dari kata Inggris kuno yang berarti buah busuk atau mengerut, dan juga digunakan untuk menyebut cider apel berkadar alkohol tinggi. Penamaan ini diharapkan membantu membuka percakapan ilmiah yang lebih tajam mengenai perilaku primata dan asal usul konsumsi alkohol.

Menariknya, orangutan tidak menunjukkan perilaku scrumping seperti kerabat Afrika mereka. Ini konsisten dengan temuan genetik bahwa enzim metabolisme alkohol orangutan jauh lebih lemah. Artinya, kemampuan ini berkembang khusus di jalur evolusi yang mengarah ke manusia, gorila, dan simpanse—mungkin sebagai adaptasi untuk menghindari risiko jatuh saat memanjat pohon demi buah matang.

Para peneliti juga melihat kemungkinan bahwa scrumping memiliki nilai sosial. Sama seperti manusia yang sering minum bersama dalam pesta atau pertemuan, kera besar mungkin juga berbagi buah fermentasi sebagai bagian dari interaksi kelompok. Ini bisa menjadi cikal bakal dari tradisi sosial seputar alkohol yang kini melekat kuat dalam budaya manusia.

Dengan menamai perilaku ini, para ilmuwan berharap bisa membuka jendela baru dalam memahami evolusi manusia. Scrumping bukan sekadar perilaku makan buah, tapi mungkin merupakan langkah awal menuju budaya, fisiologi, dan bahkan peradaban manusia seperti yang kita kenal hari ini.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#Fermentasi #manusia #simpanse #Evolusi