Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Mengapa Banyak Mamalia “Tergila-gila” Makan Semut dan Rayap

Richard Lawongan • Jumat, 1 Agustus 2025 | 15:07 WIB

Filogeni mamalia dengan warna yang menggambarkan pola makan spesies hidup dan nenek moyang mereka; siluet mamalia myrmecophagous mengelilingi pohon
Filogeni mamalia dengan warna yang menggambarkan pola makan spesies hidup dan nenek moyang mereka; siluet mamalia myrmecophagous mengelilingi pohon

RADARPAPUA - Tak hanya tikus atau anjing, ternyata banyak mamalia berevolusi ekstrem hanya demi satu hal: semut dan rayap. Sebuah studi terbaru dalam Evolution mengungkap bahwa kebiasaan makan unik ini, disebut myrmecophagy, telah berevolusi setidaknya 12 kali secara terpisah dalam 66 juta tahun terakhir.

Para peneliti menyusun data diet dari lebih dari 4.000 spesies mamalia modern, mencocokkannya dengan pohon keluarga evolusi yang dikalibrasi waktu. Hasilnya, mereka menemukan bahwa sejumlah hewan, termasuk trenggiling, aardvark, hingga numbat, telah mengembangkan adaptasi ekstrem seperti lidah lengket panjang, kuku tajam, dan gigi yang menyusut untuk memakan ribuan serangga sosial ini setiap hari.

Menariknya, semua myrmecophage berasal dari nenek moyang pemakan serangga atau karnivora. Tapi yang lebih sering "beralih profesi" adalah pemakan serangga. Misalnya, meski dalam keluarga Carnivora kebanyakan memakan daging, ada spesies seperti aardwolf yang kini berburu hingga 300.000 rayap per malam, menunjukkan betapa menggiurkannya makanan ini secara evolusioner.

Koloni semut dan rayap sendiri baru mulai mendominasi ekosistem sejak periode Miocene (23 juta tahun lalu). Sebelumnya, mereka hanya mencakup 1% serangga di Bumi. Namun perubahan iklim global dan munculnya tanaman berbunga memberi peluang bagi ledakan populasi mereka, memaksa mamalia untuk beradaptasi atau kehilangan sumber makan besar.

Studi ini juga menunjukkan bahwa myrmecophagy adalah jalan satu arah: spesies yang sudah mengadopsinya nyaris tak pernah kembali ke diet biasa. Hanya genus Macroscelides (gigi gajah) yang tercatat berbalik arah ke pola makan omnivora. Sisanya terus spesialis, dengan delapan dari dua belas jalur evolusi hanya mewakili satu spesies.

Konsekuensinya, mamalia pemakan semut dan rayap bisa terjebak di jalan buntu evolusi. Tapi selama serangga sosial ini tetap mendominasi biomassa dunia—dan mereka memang terus meluas, bahkan dengan bantuan perubahan iklim—para pemakan serangga ini tetap punya keunggulan tersendiri.

Evolusi memberi pelajaran berharga: bahkan makanan kecil seperti semut dan rayap bisa menjadi kekuatan besar yang membentuk tubuh dan perilaku spesies selama jutaan tahun. Dari adaptasi lidah hingga struktur lambung, semuanya bermula dari rasa lapar yang tak terbendung.(aj)

Editor : Richard Lawongan
#semut #Raya #fakta #mamalia #hewan #Evolusi