RADARPAPUA - Gempa bumi pernah mengguncang kota Nicomedia pada 358 M, menewaskan banyak orang seketika dan menjebak yang selamat di bawah reruntuhan. Begitu pula pada 365 M, tsunami dahsyat menerjang pesisir Afrika Utara, menyeret kapal-kapal hingga ke atap bangunan dan menewaskan ribuan jiwa.
Cerita-cerita ini tidak hanya ditemukan dalam dokumen ilmiah, tetapi juga dalam puisi dan catatan sejarah. Crinagoras dari Mytilene menulis syair untuk memohon agar rumahnya diselamatkan dari guncangan bumi. Sementara sejarawan Romawi Ammianus Marcellinus menggambarkan kehancuran Nicomedia dengan detail memilukan.
Meski ilmu geologi belum ada, filsuf seperti Anaximenes sudah mencoba menjelaskan gempa sebagai pergeseran tanah besar di bawah permukaan. Namun, banyak pula yang menyalahkan dewa laut dan gempa, Poseidon.
Teknologi dan pemahaman kita hari ini tentu jauh lebih maju—kita punya sistem peringatan dini, pemodelan tsunami, dan konstruksi tahan gempa. Tapi satu hal yang belum berubah: bencana alam masih menjadi bagian dari hidup manusia.
Sebagaimana ditulis oleh penulis anonim dalam On the Cosmos:
"Gelombang besar telah menenggelamkan daratan, dan daratan pun kadang menjadi lautan…"(aj)
Editor : Prisilia Rumengan