Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Misteri Guci Perunggu di Paestum Terpecahkan Setelah 70 Tahun Penelitian

Prisilia Rumengan • Senin, 4 Agustus 2025 | 18:51 WIB

Pada tahun 1950-an, para arkeolog menemukan guci-guci perunggu di sebuah kuil bawah tanah (credit: University of Oxford)
Pada tahun 1950-an, para arkeolog menemukan guci-guci perunggu di sebuah kuil bawah tanah (credit: University of Oxford)

RADARPAPUA – Sebuah misteri arkeologi selama hampir 70 tahun akhirnya terpecahkan. Para ilmuwan dari Universitas Oxford memastikan bahwa isi dari delapan guci perunggu berusia 2.500 tahun yang ditemukan di sebuah kuil kuno di Paestum, Italia selatan, adalah madu—kemungkinan besar dalam bentuk sarang lebah.

Guci-guci tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1954 oleh para arkeolog di dalam kuil bawah tanah kuno Yunani, sekitar 64 kilometer di selatan Pompeii.

Sejak awal, para peneliti menduga benda lengket berwarna oranye-coklat di dalam guci merupakan madu.

Namun, selama beberapa dekade, uji laboratorium menghasilkan data yang tidak meyakinkan dan justru mengarah pada kemungkinan lain, seperti lemak hewani atau nabati yang terkontaminasi.

Namun semuanya berubah ketika residu guci itu dibawa ke Museum Ashmolean, Universitas Oxford, pada 2019.

Para peneliti memanfaatkan teknik spektrometri massa dan spektroskopi canggih untuk menganalisis sisa-sisa zat tersebut.

Mereka membandingkannya dengan sampel madu dan sarang lebah modern dari Yunani dan Italia.

Hasil analisis menunjukkan keberadaan glukosa dan fruktosa, dua komponen utama dalam madu bersama dengan asam-asam terdegradasi, royal jelly (protein susu dari lebah), serta peptida dari tungau parasit yang biasanya memakan larva lebah.

James McCullagh, ahli kimia dari Oxford, menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam mengungkap temuan ini.

“Dengan menerapkan berbagai teknik analisis, kami bisa membedakan zat asli dari kontaminan,” ujarnya.

Luciana da Costa Carvalho, penulis utama studi, menambahkan bahwa kemungkinan besar guci tersebut dulunya disegel dengan gabus.

Namun seiring waktu, segel tersebut membusuk, memungkinkan oksigen dan mikroba masuk dan merusak struktur asli madu.

Bakteri kemudian mengurai gula, menyisakan zat seperti lilin yang ditemukan berabad kemudian.

Carvalho juga menyoroti nilai kultural temuan ini. Bagi bangsa Yunani kuno, madu bukan sekadar makanan, melainkan simbol spiritual dan persembahan untuk para dewa. Di dalam kuil yang sama, para peneliti juga menemukan meja kayu dan batang besi dibungkus wol, memperkuat dugaan bahwa madu itu dipersembahkan dalam ritual keagamaan.

Namun, residu tersebut bukan hanya sisa dari masa lalu, melainkan jendela ke dalam ekosistem kimia purba.

“Zat-zat ini memberi kita wawasan tentang interaksi mikroba, degradasi alami, dan cara manusia masa lalu menyimpan makanan atau persembahan,” tambah Carvalho.

Temuan ini tidak hanya menyelesaikan misteri arkeologi, tetapi juga membuka potensi studi mikrobiologi purba dan konservasi bahan organik kuno di masa depan.(Sil)

Editor : Prisilia Rumengan
#misteri #penelitian #penemuan #arkeologi #guci kuno #misteri terpecahkan #madu #Persembahan Dewa