RADARPAPUA - Tembok Hadrian adalah tembok panjang yang dibangun oleh bangsa Romawi di Inggris bagian utara. Panjangnya sekitar 118 kilometer, dari barat ke timur Inggris, dan berdiri kokoh selama 300 tahun untuk melindungi wilayah Romawi dari serangan suku-suku di utara.
Tembok ini mulai dibangun pada tahun 122 Masehi oleh Kaisar Hadrian, pemimpin Romawi saat itu. Dia ingin membuat batas pertahanan agar tentara Romawi bisa menjaga wilayahnya dari serangan suku Caledonia di Skotlandia.
Tembok Hadrian dibangun oleh tentara Romawi menggunakan batu dan tanah. Bagian timur terbuat dari batu, sedangkan bagian baratnya dari rumput dan tanah. Tembok ini juga punya parit dan tanggul sebagai pelindung tambahan. Setiap satu mil (1,6 km), ada pos kecil bernama milecastle yang dijaga oleh beberapa tentara. Di antara pos-pos itu, ada menara kecil untuk berjaga. Selain itu, ada juga benteng besar setiap 11 kilometer.
Di dalam benteng, ada rumah komandan, tempat penyimpanan makanan, dan barak untuk tentara. Salah satu benteng terkenal bernama Vindolanda, di mana para arkeolog menemukan ribuan barang bersejarah, seperti sepatu kulit, pedang mainan anak-anak, dan bahkan undangan ulang tahun yang ditulis tangan oleh seorang wanita Romawi bernama Claudia kepada temannya, Sulpicia.
Walau tentara berpangkat rendah tidak boleh menikah secara resmi, banyak dari mereka tinggal bersama istri dan anak-anak di dekat benteng. Ini menunjukkan bahwa kehidupan di tembok Hadrian tidak hanya soal perang, tapi juga soal keluarga.
Setelah Kaisar Hadrian wafat, penggantinya sempat meninggalkan tembok ini dan mencoba membangun tembok baru di Skotlandia, tapi akhirnya gagal. Tembok Hadrian pun digunakan kembali dan diperkuat dengan batu serta jalan militer.
Namun, saat Kekaisaran Romawi mulai runtuh, tembok ini kehilangan fungsinya. Banyak batu dari tembok digunakan kembali untuk membangun kastel-kastel di Inggris.
Salah satu tempat paling terkenal di sepanjang tembok ini adalah Sycamore Gap, di mana pohon besar tumbuh di dekat tembok selama lebih dari 150 tahun. Sayangnya, pada tahun 2023, pohon itu ditebang secara ilegal dan sebagian tembok ikut rusak. (*)
Editor : Richard Lawongan