Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Pompeii Hidup Lagi Setelah Gunung Meletus—Tapi Kota Itu Jadi Hunian Bobrok Selama 400 Tahun

Richard Lawongan • Minggu, 10 Agustus 2025 | 15:41 WIB

Bukti dari Insula Meridionalis (foto) menunjukkan orang-orang kembali ke Pompeii setelah letusan Gunung Vesuvius. (Image credit: Archaeological Park of Pompeii)
Bukti dari Insula Meridionalis (foto) menunjukkan orang-orang kembali ke Pompeii setelah letusan Gunung Vesuvius. (Image credit: Archaeological Park of Pompeii)

RADARPAPUA - Setelah gunung Vesuvius meletus pada 79 M, orang-orang ternyata kembali menghuni kota Pompeii yang tertimbun abu.

Penelitian terbaru menemukan bukti bahwa sisa-sisa bangunan masih dihuni selama kira-kira 400 tahun setelah letusan.

Reruntuhan kota tidak sepenuhnya ditinggalkan, karena banyak orang kembali dan tinggal di lantai atas bangunan yang masih tegak.

Menurut hasil penggalian di kawasan Insula Meridionalis – balai kota selatan Pompeii – kehidupan sepertinya kembali meski sederhana dan kacau.

Mereka yang kembali bukanlah penduduk kaya, melainkan warga miskin atau pengangguran yang butuh tempat tinggal atau ingin mencari barang yang tertinggal.

Menurut Gabriel Zuchtriegel, direktur Balai Arkeologi Pompeii – kota itu berubah jadi seperti "favela" atau kamp semipermanen di antara reruntuhan indah masa lalu.

Seperti kota yang hidup lagi dalam kondisi ekstrem, mereka buat dapur dari tabung oven, menggali jalan baru, dan pangkas bangunan tua untuk dijadikan tempat tinggal.

Bangunan yang tadinya megah berubah jadi rumah darurat, dengan dapur dan gerabah di lorong lama.

Kehidupan informal ini berlangsung hingga abad ke-5, menunjukkan kota itu bertahan lama meski tanpa tata kelola resmi.

Kehidupan Pompeii versi “bangkit dari puing diri” ini sering terabaikan karena fokus eksplorasi selama ini lebih ke fresko dan bangunan sebelum letusan.

Menurut saksi penggalian, banyak jejak hunian baru justru dirusak atau diabaikan waktu pertama kali kota ini dibuka kembali untuk publik.

Diperkirakan hanya 15–20 % penduduk asli kota yang meninggal waktu letusan, jadi banyak yang mungkin bepergian dan kembali kemudian.

Sementara itu, sejarah pencatatan wilayah menunjukkan bahwa pemerintah Romawi bahkan mencoba menghidupkan kembali kota dengan sumber daya korban yang tidak diwariskan.

Namun usaha itu gagal, dan Pompeii terus dipakai sebagai tempat genting hidup bagi mereka yang tak punya pilihan.

Baru sekarang, penelitian ini mengembalikan wajah lain Pompeii sebagai kota yang sempat hidup dalam keterbatasan pasca bencana.

Kota ini adalah contoh bagaimana masyarakat bisa bertahan dalam kondisi ekstrem—tapi jauh dari tatanan masyarakat Romawi ideal yang pernah dikenal.

Temuan ini juga mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang masa sebelum bencana, tapi juga tentang ketahanan manusia menghadapi kehancuran. (aak)

Editor : Richard Lawongan
#ArkeologiRomawi #PascaBencana #LetusanVesuvius #pompeii