Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Rahasia Besi Ekspedisi Hernando de Soto yang Tenggelam di Sungai Mississippi

Prisilia Rumengan • Kamis, 14 Agustus 2025 | 20:54 WIB

Dengan menggunakan spektrometri sinar-X, para arkeolog telah menemukan cara untuk membedakan besi dari periode waktu yang berbeda di masa lalu kolonial Amerika.
Dengan menggunakan spektrometri sinar-X, para arkeolog telah menemukan cara untuk membedakan besi dari periode waktu yang berbeda di masa lalu kolonial Amerika.

RADARPAPUA - Pada malam gelap di akhir Mei 1543, sekelompok prajurit Spanyol bergerak diam-diam di kota penduduk asli Guachoya. Mereka berhenti di sebuah makam yang baru saja ditutup, menggali jasad pemimpinnya, Hernando de Soto, lalu membawanya ke tepi sungai. Tubuh itu dibungkus kain berisi pasir dan ditenggelamkan, agar penduduk tidak tahu bahwa “dewa” yang mereka percayai telah mati karena penyakit.

De Soto adalah veteran penaklukan di Nikaragua dan Peru yang memimpin ekspedisi panjang dari Florida hingga Arkansas. Ekspedisinya menjadi penjelajahan Eropa terlama di Amerika Utara abad ke-16, namun rute pastinya masih misterius karena catatan Spanyol kala itu minim pengetahuan geografi. Untuk melacaknya, arkeolog mencari peninggalan besi yang dibawa dalam jumlah besar—dari paku, sepatu kuda, hingga senjata—namun gaya pembuatannya hampir tak berubah selama berabad-abad, membuat identifikasi sulit.

Perkembangan baru muncul ketika para peneliti dari Florida Museum menggunakan X-ray fluorescence spectrometry untuk mendeteksi perbedaan mikroskopis pada besi dari berbagai ekspedisi. Penelitian ini diawali dengan kebangkitan penggunaan detektor logam di arkeologi, yang awalnya dicurigai karena kerap digunakan penjarah situs sejarah. Titik baliknya datang pada 1983 saat penelitian di lokasi Pertempuran Little Bighorn membuktikan efektivitas detektor logam dalam survei berskala luas.

Arkeolog Charles Cobb dan Lindsay Bloch mengaplikasikan teknologi ini untuk menelusuri jejak de Soto. Pada 2015, mereka menemukan situs pertempuran besar antara pasukan de Soto dan suku Chickasaw di Mississippi—lokasi yang selama puluhan tahun hanya dicari lewat metode tradisional. Namun di situs Marengo, Alabama, peninggalan besi mungkin berasal dari de Soto atau dari ekspedisi Tristán de Luna dua dekade kemudian, sehingga diperlukan analisis lebih rinci.

Hasil uji awal menunjukkan perbedaan kandungan unsur jejak dalam besi sesuai periode waktu. Besi abad ke-16 memiliki sedikit mangan, sedangkan abad ke-18 dan 19 cenderung memiliki bismut. Unsur seperti titanium dan zirkonium muncul pada artefak abad ke-16 akhir hingga ke-17. Kualitas besi tertinggi justru ditemukan pada awal ekspedisi, dengan sepatu kuda sebagai artefak paling murni.

Analisis ini mengindikasikan bahwa besi dari kompleks Marengo kemungkinan besar milik de Soto, namun kepastian masih memerlukan pembandingan dengan artefak yang asalnya sudah terverifikasi. Peneliti berencana melanjutkan penelitian dengan isotopic analysis yang lebih presisi, meski biayanya jauh lebih tinggi.

Kisah ini memperlihatkan bagaimana sejarah tidak hanya tersimpan dalam catatan tertulis, tetapi juga di dalam karat besi yang tertimbun tanah. Dari jasad yang hilang di sungai hingga partikel logam yang membocorkan rahasia abad ke-16, de Soto tetap meninggalkan jejak yang menunggu untuk diuraikan.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#SPANYOL #Teknologi #arkeologi #sejarah