RADARPAPUA - Seorang mahasiswa arkeologi bernama Yara Souza menemukan artefak emas langka berusia abad ke-9 hanya 90 menit setelah mulai penggalian pertamanya.
Penemuan itu terjadi di daerah Redesdale, Northumberland, Inggris.
Yara berasal dari Orlando, Florida, dan belajar arkeologi di Newcastle University.
Artefak tersebut hanyalah kecil, berbentuk ‘knob’ tipis sepanjang sekitar 4 cm, tetapi membuat semua orang terkejut karena usianya yang kuno.
Objek ini mirip dengan artefak lain yang ditemukan pada 2021 oleh seorang metal detectorist di lokasi yang sama.
Artefak tersebut merupakan pin berkepala bola dari periode awal Abad Pertengahan.
Menemukan emas dalam waktu singkat di penggalian pertama adalah kejadian yang sangat langka dan bersejarah.
Letak penemuan sangat dekat dengan Dere Street, bekas jalan utama Romawi yang membentang ke utara Inggris.
Jalan itu dulu digunakan untuk mengirim pasukan dan suplai ke Skotlandia.
Karena emas dulu identik dengan status tinggi, peneliti menduga bahwa artefak ini punya fungsi upacara atau religius, bukan sekadar aksesori biasa.
Profesor James Gerrard, arkeolog Romawi dari Newcastle University, menyebut penemuan ini sebagai "temuan luar biasa dan berkualitas tinggi."
Menurut dia, kedua artefak emas mungkin sengaja dikubur oleh mereka yang memiliki status sosial tinggi.
Kerja sama antara mahasiswa dan detektoris logam membuat pemahaman tentang masa lalu Northumberland semakin lengkap.
Proyek ini didukung oleh scheme Portable Antiquities di Inggris, yang membantu menganalisis penemuan artefak.
Setelah analisis dilakukan, artefak akan dipamerkan di Great North Museum: Hancock.
Yara merasa penemuan ini sangat luar biasa karena sebelumnya dia melewatkan kesempatan bergabung di penggalian Birdoswald karena sakit.
Kini dia sangat bersemangat karena bisa menemukan sesuatu yang tidak terlihat selama lebih dari seribu tahun.
Temuan ini meningkatkan reputasi Newcastle University dalam mendidik mahasiswa lapangan dan arkeologi praktis.
Penemuan semacam ini membuktikan bahwa sejarah terkadang terungkap melalui momen tak terduga dan kerja keras mahasiswa.
Kisah ini juga membuktikan bahwa pemula dengan antusias dan bantuan tim bisa membawa kejutan besar. (aak)
Editor : Richard Lawongan