RADARPAPUA - Baru-baru ini, sebuah patung kuno yang menggambarkan sosok menakutkan bernama Pazuzu kembali menarik perhatian publik.
Pazuzu adalah salah satu figur mitologi dari peradaban Mesopotamia yang hidup ribuan tahun lalu.
Sosok ini dikenal sebagai “demon-god” atau dewa iblis yang diyakini memiliki kekuatan besar.
Menurut LiveScience, patung Pazuzu yang ditemukan menunjukkan bentuk tubuh menyeramkan dengan sayap, wajah mirip singa, dan cakar tajam.
Bentuknya yang aneh membuat banyak orang langsung mengaitkannya dengan cerita-cerita horor modern.
Salah satu kaitan paling terkenal adalah film The Exorcist, film horor klasik yang terinspirasi dari figur Pazuzu.
Dalam mitologi Mesopotamia, Pazuzu bukan hanya sekadar simbol kejahatan tanpa alasan.
Ia dipercaya mampu membawa penyakit, wabah, dan bencana alam yang menakutkan bagi manusia.
Namun, uniknya, patung Pazuzu juga digunakan sebagai jimat pelindung dalam budaya Mesopotamia.
Dilansir dari LiveScience, masyarakat saat itu percaya Pazuzu bisa menangkal roh jahat lain yang lebih berbahaya, terutama dewi iblis bernama Lamashtu.
Lamashtu dikenal sebagai sosok yang sering menyerang ibu hamil dan bayi baru lahir.
Karena itu, orang Mesopotamia menyimpan patung kecil Pazuzu di rumah mereka sebagai penjaga.
Mereka meyakini dengan cara itu, keluarga akan terlindungi dari gangguan makhluk gaib.
Hal ini menunjukkan bahwa peran Pazuzu dalam mitologi sebenarnya cukup rumit, bukan sekadar makhluk jahat.
Pazuzu adalah contoh bagaimana peradaban kuno melihat dunia roh, di mana satu sosok bisa menjadi musuh sekaligus pelindung.
Ketika patung ini ditemukan kembali, para arkeolog berusaha menafsirkan simbolisme yang ada di dalamnya.
Banyak yang berpendapat bahwa bentuk menyeramkan Pazuzu justru sengaja dibuat agar roh jahat lain takut.
Peninggalan seperti patung Pazuzu sangat berharga karena membantu kita memahami kepercayaan kuno.
Meski menakutkan, figur ini adalah bagian penting dari budaya Mesopotamia yang kaya akan mitologi.
Kini, Pazuzu lebih sering dikenal lewat film horor, namun kisah aslinya jauh lebih dalam dan kompleks. (aak)
Editor : Richard Lawongan