Berita Terbaru Business Ekbis Ekonomi & Bisnis Fakfak Feature Gedung Bintang Hiburan Hukum & Kriminal Humaniora Internasional Kesehatan Kota Sorong Lifestyle & Teknologi Manokwari Selatan Nasional News Nusantara Olahraga Opini Otomotif Papua Raya Pegunungan Arfak Publika Publika & Politik Sorong Selatan Tambrauw Teluk Bintuni Teluk Wondama Teropong

Panah Tertua di Dunia? Bukti Baru dari Uzbekistan

Prisilia Rumengan • Selasa, 19 Agustus 2025 | 20:07 WIB

Perbandingan antara titik mikro dari Obi-Rakhmat, lapisan 20-21, dan Mandrin, lapisan E [6,150].
Perbandingan antara titik mikro dari Obi-Rakhmat, lapisan 20-21, dan Mandrin, lapisan E [6,150].

RADARPAPUA - Peneliti dari Université de Bordeaux dan Institute of Archaeology and Ethnography Novosibirsk menemukan bukti mengejutkan di situs Obi-Rakhmat, Uzbekistan. Mereka mengidentifikasi tiga jenis mata proyektil berusia sekitar 80.000 tahun, termasuk mikropoin segitiga kecil yang kemungkinan besar dipasang pada batang mirip anak panah.

Senjata berburu adalah ciri khas genus Homo, dengan konsumsi daging yang berperan besar dalam evolusi kognitif dan perilaku manusia. Penemuan alat berburu kecil seperti mikropoin jarang diteliti pada masa transisi Paleolitik Tengah ke Atas, sehingga temuan ini menjadi sangat penting.

Situs Obi-Rakhmat sendiri terletak di lembah Paltau, Uzbekistan timur laut, dengan 21 lapisan sedimen berusia 90.000–40.000 tahun. Pada lapisan tertua (80.000 tahun lalu), peneliti menemukan hampir 400 artefak litik, termasuk 20 potongan yang diduga digunakan sebagai mata proyektil.

Untuk membuktikan hipotesis ini, para peneliti melakukan uji jejak penggunaan dengan mikroskop serta eksperimen reproduksi. Mereka memasang mikropoin dari batu kapur pada batang panah kayu berdiameter 8 mm dan menembakkannya dengan busur 36-lb ke bangkai hewan kecil. Hasilnya menunjukkan pola kerusakan yang sama seperti artefak asli.

Dari analisis, peneliti mengelompokkan senjata menjadi tiga jenis: mata proyektil besar (seperti tombak), mikropoin segitiga (panah ringan), dan bilah kecil (bladelet) yang mungkin digunakan sebagai sisipan samping. Mikropoin rata-rata memiliki lebar 18 mm dan berat sekitar 1–2 gram, cocok untuk anak panah.

Yang mengejutkan, bukti ini menunjukkan bahwa teknologi panah mungkin sudah muncul 80.000 tahun lalu, jauh lebih awal dari dugaan sebelumnya. Ini menandakan adanya sistem senjata kompleks dalam kerangka Paleolitik Tengah, bukan hanya pada masa Paleolitik Atas.

Ke depan, penelitian lanjutan akan menguji konsistensi temuan ini di lapisan lain. Jika benar, maka manusia purba di Asia Tengah telah lebih maju dalam teknologi berburu daripada yang pernah dibayangkan.(aj)

Editor : Prisilia Rumengan
#panah #evolusi manusia #arkeologi #sejarah