RADARPAPUA - Para ilmuwan dari Virginia Tech menemukan cara membuat es bergerak sendiri tanpa dorongan apa pun. Bukan sulap, melainkan rekayasa cerdas dengan memanfaatkan pelat logam khusus yang dirancang agar cakram es bisa meluncur di atasnya. Temuan ini membuka peluang besar, mulai dari sistem defrosting cepat hingga metode baru panen energi ramah lingkungan.
Inspirasi penelitian ini datang dari fenomena langka “sailing stones” di Death Valley, Amerika Serikat. Di sana, batu besar bisa bergeser sendiri di permukaan tanah kering akibat kombinasi es mencair dan hembusan angin. Meniru peristiwa alam tersebut, tim peneliti berupaya menciptakan permukaan buatan yang memungkinkan es bergerak di jalur datar tanpa bantuan angin.
Setelah lima tahun percobaan, Jonathan Boreyko dan timnya berhasil mewujudkan ide tersebut. Mereka membangun pelat aluminium dengan alur kecil berbentuk huruf V yang disusun dalam pola tulang ikan (herringbone). Ketika cakram es dari air beku diletakkan di atas pelat panas, alur ini menyalurkan air lelehan sehingga es terdorong maju.
Pola herringbone menjadi kunci penting, karena mencegah air mengalir mundur. Bahkan, pada pelat yang dilapisi semprotan anti-air, cakram es sempat menempel sebelum akhirnya “meluncur” cepat melintasi permukaan logam. Fenomena ini menunjukkan kontrol arah pergerakan es bisa dimanipulasi dengan rekayasa sederhana.
Dalam publikasi di ACS Applied Materials & Interfaces, tim menulis bahwa temuan ini membuka potensi besar untuk teknologi anti-es, permukaan pembersih mandiri, hingga transportasi mikrofluida tanpa daya listrik. Semua itu memanfaatkan proses alami pencairan dan aliran air yang diarahkan oleh permukaan logam.
Salah satu aplikasi paling menjanjikan adalah panen energi hijau. Bayangkan pelat logam dibuat melingkar sehingga cakram es berputar terus-menerus ketika mencair. Putaran itu bisa dihubungkan dengan magnet atau turbin mini untuk menghasilkan listrik tanpa bahan bakar.
Meski masih dalam tahap awal, riset ini memberi gambaran menarik tentang bagaimana es, yang biasanya kita anggap pasif dan dingin, bisa berubah menjadi mesin alami. Dengan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini mungkin akan hadir dalam sistem defrosting mobil, panel surya, hingga perangkat energi masa depan.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan