RADARPAPUA - Hampir tiga dekade lalu, area pertambangan chert di Hutan Krumlov ditemukan. Lokasi ini memperlihatkan aktivitas penambangan sejak awal Holosen hingga Zaman Besi Awal, meski hanya dilakukan oleh budaya tertentu seperti Funnelbeaker, Michelsberg, Globular Amphorae, dan Mierzanowice. Salah satu hal menarik dari situs ini adalah adanya kuburan individu yang dikaitkan langsung dengan area pertambangan.
Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di Archaeological and Anthropological Sciences, Dr. Eva Vaníčková dan timnya menganalisis tiga individu yang dimakamkan di lokasi: dua perempuan dewasa dan seorang bayi baru lahir. Kedua perempuan berusia sekitar 30–40 tahun menunjukkan tanda-tanda kerja fisik ekstrem, termasuk perubahan degeneratif pada tulang belakang akibat posisi kerja membungkuk di lorong tambang sempit.
Analisis isotop mengungkap bahwa keduanya adalah penduduk lokal dengan pola makan kaya protein hewani, lebih tinggi dibanding populasi Neolitik lain di wilayah tersebut. Diet ini mungkin diberikan untuk menjaga kondisi fisik mereka selama bekerja di tambang. Namun, sebuah fraktur pada tulang ulna yang dibiarkan tanpa penyembuhan mengindikasikan mereka dipaksa tetap bekerja meski terluka.
Temuan DNA menunjukkan kedua perempuan itu memiliki hubungan kekerabatan, kemungkinan saudara kandung, dan mengalami stres masa kanak-kanak. Meski begitu, penyebab pasti kematian mereka tidak diketahui. Bayi yang dikubur bersama mereka menimbulkan tanda tanya lebih besar: lahir cukup bulan, namun tidak memiliki hubungan genetik dengan kedua perempuan tersebut.
Menurut Dr. Vaníčková, nilai praktis chert dari tambang bawah tanah sebenarnya kecil, karena batu ini bisa dikumpulkan di permukaan. Namun, chert yang ditambang sering dibuat menjadi kapak, bilah panjang, atau belati prestise yang kemudian ditempatkan dalam deposit ritual. Hal ini menegaskan bahwa penambangan mungkin punya makna simbolis, spiritual, atau berhubungan dengan leluhur.
Dengan konteks tersebut, penguburan perempuan penambang di dalam lubang tambang mungkin memiliki makna pengembalian “hasil kerja” ke dalam bumi. Mereka bukan hanya pekerja, tetapi mungkin bagian dari ritus yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia bawah tanah.
Meski demikian, pertanyaan besar tetap terbuka: apakah perempuan ini bekerja secara sukarela, atau mereka adalah korban sistem sosial Eneolitik yang semakin menekan peran perempuan? Temuan ini membuka diskusi baru tentang siapa sebenarnya yang menanggung beban fisik terberat dalam masyarakat prasejarah Eropa.(aj)
Editor : Richard Lawongan