RADARPAPUA - Elon Musk menyebut Grok—chatbot milik xAI—sebagai “AI paling pintar di dunia.” Namun, pembaruan terbarunya justru menghadirkan Ani, pacar anime berbalut konten dewasa, bahkan ditambah versi “pacar laki-laki” ala Twilight dan 50 Shades of Grey. Sementara itu, OpenAI meluncurkan GPT-5 yang lebih dingin, menggantikan model GPT-4o yang dianggap terlalu menyenangkan.
Fenomena ini menunjukkan arah baru industri AI: bukan lagi sekadar alat penelitian, melainkan sahabat, pasangan, bahkan terapis virtual. Para pengembang seperti xAI, OpenAI, Google DeepMind, hingga Anthropic mengklaim ingin membangun AI demi “kepentingan umat manusia.” Namun, desain yang dipilih justru menjurus pada antropomorfisme—pemberian sifat manusia pada mesin.
Antropomorfisme bukan hal sepele. Seperti dijelaskan kognitifis Pascal Boyer, otak manusia berevolusi untuk membaca sinyal sosial sekecil apa pun. Maka ketika mesin berbicara dengan emosi atau berperilaku menyerupai manusia, insting kita langsung memperlakukannya seolah-olah ia benar-benar hidup.
Akibatnya bisa ringan—seperti pengguna yang refleks mengucapkan “terima kasih” pada chatbot. Namun, dalam kasus ekstrem, pengguna bisa percaya AI memiliki kesadaran, mampu merasakan sakit, atau bahkan mencintai mereka. Sudah ada yang menikahi AI, sementara lainnya mengalami depresi hingga melakukan tindak kekerasan akibat ikatan tak sehat dengan “teman virtual”-nya.
Sebagian orang bahkan melampiaskan amarah dengan mengumpat atau melecehkan chatbot, seakan melawan manusia sungguhan. Menyadari ini, Anthropic melatih model Claude untuk bisa menutup percakapan ketika pengguna bersikap abusif—tanda betapa seriusnya dampak psikologis desain antropomorfik.
Membuat AI terlihat lebih “dingin” mungkin terdengar sebagai solusi. Filsuf Daniel Dennett bahkan menyebut de-anthropomorphizing sebagai satu-satunya harapan. Namun, ikatan emosional yang sudah terbentuk membuatnya sulit. Buktinya, banyak pengguna meratapi “kehilangan” GPT-4o hanya karena pola bahasanya diganti di GPT-5. Mereka tidak meratapi fungsi, melainkan kepribadian buatan yang melekat di balik bahasa mesin.
Inilah bahaya sesungguhnya: bukan soal AI yang suatu hari menjadi sadar atau mengambil alih dunia, melainkan ilusi bahwa mesin sudah seperti kita. Selama desain antropomorfik terus didorong, manusia akan semakin menjauh dari potensi sejati AI sebagai alat ilmiah, dan semakin dekat dengan jebakan emosi, manipulasi, serta penderitaan yang kita ciptakan sendiri.(aj)
Editor : Prisilia Rumengan