RADARPAPUA - Dua raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix, kini menghadapi tantangan serius setelah Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) mencabut lisensi mereka untuk menggunakan peralatan baru di fasilitas manufaktur chip di China.
Kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi industri semikonduktor global yang tengah berada di tengah pusaran perang dagang antara AS dan China.
Berdasarkan informasi resmi, lisensi yang dicabut ini khusus terkait dengan izin untuk melakukan peningkatan atau ekspansi produksi di pabrik chip mereka di China.
Meski demikian, izin penggunaan peralatan yang sudah terpasang di fasilitas tersebut tetap berlaku. Artinya, kedua perusahaan masih bisa mengoperasikan pabrik, tetapi jika ada peralatan rusak atau harus diganti, mereka tidak bisa mendatangkan mesin baru dari AS.
Seorang sumber industri yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kebijakan ini membuat Samsung dan SK Hynix berada dalam posisi sulit. "Pabrik di China memang memproduksi chip generasi lama, sementara teknologi terbaru biasanya dibuat di Korea Selatan dan Amerika. Tapi tetap saja, gangguan pada fasilitas di China bisa berpengaruh pada rantai pasok global," ujarnya.
Samsung selama ini memanfaatkan pabrik di China untuk produksi chip memori yang menyasar pasar kelas menengah. Sementara SK Hynix juga bergantung pada fasilitas di negara tersebut untuk memasok kebutuhan berbagai produsen elektronik dunia. Tanpa akses peralatan baru, keberlangsungan produksi dalam jangka panjang bisa terancam.
Pakar industri semikonduktor, Lee Ji-hoon, menilai langkah AS ini bukan semata-mata soal lisensi, tetapi bagian dari strategi jangka panjang Washington untuk menekan perkembangan teknologi chip di China.
"AS ingin memastikan bahwa perkembangan chip modern tidak bergantung pada China. Sayangnya, produsen global seperti Samsung dan SK Hynix ikut terkena imbasnya," jelas Lee.
Meskipun Samsung dan SK Hynix masih memiliki pabrik besar di Korea Selatan dan Amerika Serikat, ketergantungan mereka pada pasar China tetap signifikan. Banyak perusahaan teknologi di dunia masih membutuhkan pasokan chip dari kedua perusahaan tersebut. Oleh karena itu, pencabutan lisensi ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian pada rantai pasok global, khususnya bagi produsen elektronik yang bergantung pada chip memori.
Hingga kini, baik Samsung maupun SK Hynix belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah antisipasi atas keputusan AS tersebut. Namun, analis memperkirakan keduanya akan berupaya menyeimbangkan strategi produksi dengan memperkuat kapasitas di Korea Selatan dan Amerika, sembari mencari alternatif pasokan peralatan non-AS jika memungkinkan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perang dagang AS-China tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga mengguncang industri global, terutama sektor semikonduktor yang menjadi tulang punggung teknologi modern.(Sil)
Editor : Prisilia Rumengan