RADARPAPUA -
Tim arkeolog, penyelam, dan peneliti dari berbagai institusi di Aljazair baru saja memulai fase kedua dari kampanye eksplorasi bawah laut di lepas pantai Tipasa, kota UNESCO yang kaya sejarah.
Proyek ambisius ini dipimpin oleh Kementerian Kebudayaan dan Berbagai Pemerhati Penelitian, sebagai tindak lanjut rekomendasi UNESCO agar zona perlindungan tempat itu diperluas hingga area laut.
Sebelas ahli menyelam dan arkeolog maritim bertugas mencari artefak yang sebelumnya terdeteksi pada ekspedisi awal, termasuk amphora, struktur batu tua, dan relief batu laut yang mungkin membuktikan adanya pelabuhan Phoenisia kuno.
Tipasa dulunya adalah pusat perdagangan dan agama yang menggabungkan pengaruh Punisia, Romawi, Kristen awal, dan Bizantium—dan sebagian besar kota itu kini tersembunyi oleh sedimentasi laut.
Ditemukan amphora berserakan, dinding laut menyerupai dermaga, serta tonjolan batu berukir—mengindikasikan fungsi pelabuhan aktif yang beroperasi sejak abad ke-4 SM hingga abad ke-3 Masehi.
Menurut Rafik Khelaf, ahli yang meneliti situs Sainte Salsa, keberadaan cistern, gudang, dan dermaga potong batu memperkuat dugaan bahwa ini adalah pusat perdagangan maritim kuno.
Baca Juga: Rahasia Permukiman Batu di Bawah Laut Aarhus
Selain eksplorasi sejarah, ada perhatian besar terhadap pelestarian: pemerintah sedang menyiapkan zona laut terlarang untuk mencegah erosi, penyelaman liar, dan penjarahan. Kebijakan pelindung ini ditargetkan berlaku mulai 2025.
Kolaborasi internasional pun tengah berjalan—Aljazair menjalin kesepakatan dengan Turki untuk belajar metode penggalian bawah laut dan konservasi dari negara yang sudah maju di bidang ini.
Semoga musim penyelaman musim panas ini membuka tabir rahasia Tipasa di bawah gelombang: kota yang tenggelam, pelabuhan kuno, dan jejak kehidupan masa lampau yang tersimpan di dasar Laut Mediterania.
(AR)
Editor : Prisilia Rumengan